Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Kajian Semiotik dalam Sastra

 

Feminisme Islami: Citra Perlawanan Muslimah terhadap Inferioritas Perempuan dalam Novel Assalamu’alaikum Beijing

(Analisis Semiotik)

Pendahuluan

Isu feminisme masih menjadi diskusi menarik dalam kajian akademik ataupun obrolan lepas para pecinta ilmu pengetahuan. Ditinjau dari sisi manapun pembicaraan tentang perempuan memang selalu memancing munculnya greget dan perasaan untuk mengetahui lebih jauh. Dalam dunia sastra, feminisme juga memiliki proporsi semakin besar yang ditandai dengan data kuantitif tentang kajian materi tersebut senantiasa bertambah. Feminisme telah menjadi tema penting perkembangan wacana akademik di kampus ataupun di lembaga-lembaga pemberdayaan perempuan.

Di Indonesia, kajian tentang perempuan memang sudah berlangsung cukup lama. Terkhusus dalam bidang sastra, isu perempuan mulai mencuat di permukaan ditandai dengan munculnya beberapa karya sastra yang bertemakan perempuan, seperti Azab dan Sengsara (1921), Siti Nurbaya (1922), Asmara Jaya (1926) dan berbagai karya sastra lainnya yang memiliki substansi yang sama, yaitu tentang perempuan. Pada prinsipnya semua karya-karya tersebut berbicara tentang bagaimana posisi perempuan yang selalu tertindas dan tak berkutik dihadapan konstruk sosial serta dominasi lelaki dalam kehidupan (Sugihastono dan Suharto, 2013: 34).

Sebagaimana berkembangnya perspektif-perspektif yang lain dalam bidang sastra, feminisme juga kemudian perlahan menjadi satu sudut pandang baru yang mulai matang secara teori ilmiah. Beberapa tokoh sastra ataupun kritikusnya telah melakukan kajian panjang tentang penggunaan teori feminisme dalam kajian sastra.

Secara aksiologis, karya sastra feminis di Indonesia muncul sekaligus sebagai kritik, baik secara substansi isi ataupun secara eksplisit. Artinya kemunculan model-model karya sastra yang memiliki tendensi “keperempuanan” di dalamnya dilakukan secara representatif melalui karya sastra ataupun melalui tulisan-tulisan ilmiah berupa esai ataupun artikel di media massa.

Orientasi kajian feminisme di Indonesia dari waktu ke waktu, jika dipetakan melalui beberapa novel yang bertemakan perempuan, memiliki varian tema yang cukup banyak yang sekaligus menunjukkan dinamika kajian feminisme dalam dunia sastra. Selain beberapa novel yang sudah saya sebutkan di atas, novel-novel berbasis perempuan seperti novel Matahari di Atas Gili karangan Lintang Sugianto (2007) menjadi varian baru dalam perkembangan sastra feminis di Indonesia. Dalam novel tersebut Lintang menggambarkan bagaimana peran perempuan mampu memberikan prubahan sosial dalam masyarakat.

Dalam tulisan ini, kaitannya tentang kajian prempuan dalam sastra, saya memiliki ketertarikan untuk mengangkat isu yang sama melalui karya sastra seorang penulis perempuan bernama Asma Nadia. Tokoh yang belakangan ini mulai populer karena novel-novelnya yang bagus dan beberapa di antaranya telah ditayangkan di layar televisi menarik untuk dikaji di samping karena popularitasnya, juga karena tema “keperempuanan” yang ada di dalamnya.

Adalah novel “Assalamualaikum Beijing” menjadi pilihan saya untuk dikaji. Pemilihan novel ini berangkat dari beberapa asumsi yang mencakup isi, penulis, dan tanggapan pembaca tentang karya tersebut. Secara isi, Assalamualakum Beijing memiliki isi percintaan yang dikemas dalam nuansa pemahaman Islam yang renyah sehingga mungkin membuat para pembaca tertarik dan terbawa. Barangkali salah satu yang menyebabkan hal ini adalah karena demografi bangsa Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Di samping itu, dari sisi penulis, Asma Nadia sudah sangat populer di dunia sastra Indonesia.  Adapun jika dilihat dari sisi resepsi pembaca, Assalamualaikum Beijing memiliki pembaca yang cukup banyak. Hal ini terbukti dari data yang menunjukkan bahwa pada tahun 2014 hingga pada bulan oktober telah mengalami delapan kali cetak ulang.

Beberapa data statistik di atas menjadi alasan saya untuk mengakaji karya sastra ini dalam skema kritik sastra. Adapun poin penting yang menjadikan penulis tertarik untuk mengkaji novel ini secara lebih lanjut adalah beberapa persoalan bentuk ataupun substansi di dalamnya. Pertama, Assalamualaikum Beijing memiliki kecendrungan misi, yakni berupa eksplorasi paham keagamaan Islam. Proses ekplorasi ini mencakup banyak hal termasuk bagaiamana posisi perempuan yang seharusnya. Model penyajian karya sastra seperti ini disebut dalam kajian penilaian sastra seabagai sastra tendens, yaitu sastra yang memiliki misi tertentu.

Kedua, Assalamualikum Beijing memiliki kecendrungan gender dimana tokoh-tokoh utama dalam novel tersebut menggambarkan bagaimana posisi perempuan dalam upaya mempertahankan identitas mereka dalam urusan rumah tangga ataupun sebagai bagian dari komponen sosial. Asma, misalnya digambarkan sebagai seorang perempuan yang tangguh dan mendapatkan kesempatan berkarir lebih maju hingga mendapat tugas meliput ke luar negeri. Begitu juga dengan Sekar yang diceritakan sebagai istri yang senantiasa disayang suami, serta sosok Anita yang selalu tegar menghadapi tingkah Dewa (suami yang tak pernah mencintainya).

Beberapa cuplikan cerita tersebut mengindikasikan bahwa novel Assalamualikum Beijing memiliki kepentingan eksplorasi citra perlawanan terhadap inferioritas perempuan dalam patriaki sosial dan rumah tangga serta memunculkan doktrinasi keagamaan yang bersumber dari agama Islam. Dengan demikian tulisan ini akan diarahkan pada persoalan, bagaimana model citra perlawanan perempuan dalam novel Assalamualaikum Beijing? Serta seperti apa unsur-unsur paham keagamaan Islam di dalamnya.

Kajian semacam ini tentu saja akan bermanfaat bagi para pengkaji sastra ataupun para aktivis sosial serta gender sebagai paduan dalam upaya meperjuangkan hak-hak perempuan. Di samping manfaat kontekstual tersebut, kajian ini akan memberikan model pengkajian sastra yang berparadigma integratif-interkonektif. Artinya kritik sastra dalam tulisan ini memiliki sudut pandang keagamaan dimana hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan model representasi keagamaan dalam kajian sastra. Tambahan pula, kajian ini berfungsi memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi para pembaca karya sastra dalam upaya mengisi ruang kosong yang sering kali ditinggalkan oleh penulis suatu karya.

 

A.      Kajian terdahulu

Telah banyak tulisan yang mengkaji tentang karangan-karangan Asma Nadia. Beberapa di antaranya: Surga Yang Tak Dirindukan (2014), Rumah Tanpa Jendela (2011) dan sebagainya telah banyak dikaji dalam dunia kesusastraan Indonesia. Namun demikian terkhusus pada novel Assalamualaikum Beijing (2014), berdasarkan pada penelusuran yang penulis lakukan di internet, kajian tentang Assalamualaikum Beijing hanya berkutat pada pembahasaan isi karangan berupa kisah percintaan, pengkhianatan dan ketegaran.

Lia Prasetyaningrum misalnya, menulis di Kompasiana.com tentang resensi novel tersebut dengan judul karya, Assalamualaikum cinta sejati. Tulisan tersebut sebagaimana diungkapkan di muka hanya membahas tentang isi dan persepsi mereka tentang novel tersebut (Prasetyaningrum, 2014 dalam kompasiana.com). demikian pula dengan tulisan Hapsari yang menulis, Assalamualaikum Beijing; Membidik Titik Bernama Setia. (rumah.hastari.com)[1] Serta beragama tulisan yang sama dengan orientasi kajian yang sama pula yakni tentang substansi isi novel.

Tentang kajian sastra feminisme, sudah banyak pula yang mengkaji hal tersebut seperti kajian-kajian karya sastra angkatan 45, angkatan 60 serta yang lainnya seperti novel Siti Nurbaya, Layar Terkembang dan semacamnya. Sebagaimana yang disinggung dalam pendahuluan, kajian kritik sastra feminis tersebut berkutat pada isu kebangkitan kaum perempuan, persamaan gender serta posisi perempuan dalam pendidikan. Kajian-kajian tersebut lebih menitikberatkan bagaimana konstruk gender dalam interaksi sosial masyarakat dengan anlisis struktur karya baik internal ataupun eksternal. Namun karya ini menggunakan pendekatan semiotika.

Sudut pandang semiotik sebagai pembeda kajian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Dengan demikian penelitian ini berbeda secara objek formal dimana rumusan masalah peneliti telusuri dengan pisau analisis semiotika.

B.       Deskripsi singkat novel Assalamualaikum Beijing

Novel ini ditulis oleh Asma Nadia dan diterbitkan pertama kali pada tahun 2014  oleh Asma Nadia Publishing House. Hingga akhir 2014, novel tersebut telah dicetak ulang sebanyak delapan kali. Novel ini kemudian diangkat ke layar lebar deng judul yang sama. Ilustrasi dalam novel ini dimulai dengan adegan putusnya hubungan percintaan Dewa dan Ra yang sebenarnya tinggal satu bulan lagi akan melangsungkan pernikahan.

Dewa dan Ra adalah sepasang kekasih yang sudah menjalin asmara sejak masa awal kuliah, namun “kecelakaan” telah menimpa Dewa sehingga memaksanya untuk memutuskan tali asmaranya dengan Ra dan terpaksa memilih wanita lain yang terlanjur ia “setubuhi” karena ketidakberhasilannya mengekang nafsu.

Alur dalam novel ini sedikit mengalami dualisme saat awal membaca lembar demi lembarnya, namun hal tersebut hanya permainan alur[2] untuk menyembunyikan ketertebakan alur cerita. Cerita tersebut dikisahkan secara dikotomis antara Dewa dengan Ra dan Zhongwen dengan Asma, yang sebenarnya Ra dan Asma adalah tokoh yang sama.

Dewa adalah seorang pecinta yang setia dan memiliki perasaan yang sangat besar kepada Ra sehingga bahkan setelah pernikahannya dengan Anita, dia tetap saja menginginkan Ra. Adapun Zhongwen adalah seorang pemilik biro travel di China yang kemudian jatuh hati pada Asma. Di sisi lain, kisah sahabat Asma bernama Sekar yang memiliki kisah pernikahan yang unik juga disinggung dalam buku tersebut.

Pertemuan antara Asma dan Zhongwen berawal ketika Asma mendapat tugas liputan ke negeri China. Tugasnya itu sekalian dijadikan sebagai obat pengalihan setelah sakit hati putus cinta dengan Dewa. Pada prinsipnya, kisah dalam novel ini mengambarkan tentang kekuatan hati Asma menjalani hidupnya yang setelah didera putus cinta kemudian ditimpa beberapa penyakit kronis yang hampir merenggut nyawanya. Kemudian kisah dalam novel ini juga menceritakan bagaimana sosok Anita, (wanita yang terpaksa dinikahi Dewa) menjalani hari-harinya yang selalu tanpa cinta dari suaminya dengan ketegaran dan ketabahan. Pada akhirnya, Asma menikah dengan Zhongwen dan Dewa mulai membuka hati untuk istrinya Anita.

Sebagaimana yang penulis singgung di muka, kajian dalam tulisan ini adalah beruapaya mendeskripsikan berberapa topik yang sudah dirumuskan menjadi masalah dalam kritik sastra kemudian memaparkannya dalam suatu analisis yang berisfat deskriptif interpretatif.

C.      Teori dan Metode Analisis

Data dalam tulisan ini akan dianalisis menggunakan prinsip analisis (kritik) sastra pada umunya. Pertama tulisan ini akan memetakan kalimat-kalimat bernuansa keperempuanan kemudian dilanjutkan dengan analisis yang dibingkai dalam perspektif feminisme. Sebagaimana kajian yang dikedepankan, kajian dalam tulisan ini bertujuan untuk mengelaborasi posisi perempuan dalam novel Assalamualaikum Beijing.

Wiyatmi  membagi model kritik sastra feminis dalam lima bagian, diantaranya: 1) kritik sastra feminis perempuan sebagai pembaca, 2) kritik sastra feminis yang melihat perempuan sebagai penulis, 3) kritik feminis psikoanalisis, 4) kritik feminis marxis dan 5) kritik feminis hitam dan lesbian. Adapun dalam tulisan ini teori yang akan digunakan adalah teori kritik feminis yang melihat prempuan dengan tekanan psikologis yang mereka terima. Teori ini memiliki pandangan psikoanalisis dimana identitas gender, perilaku gender, serta orientasi seksual perempuan (dan laki-laki) bukanlah hasil dari fakta biologis tetapi merupakan hasil dari nilai-nilai sosial dan struktur patriarki (Wiyatmi, 2012: 27).

Teori kritik sastra feminis dalam tulisan ini penulis posisikan sebagai kerangka menuju hasil analisis. Di samping itu kegiatan analisis nantinya menggunakan pendekatan semiotik dalam mengungkap makna karya sastra tersebut. Penggunaan teori semiotik dalam analisis ini berkaitan dengan tanda secara sajian penulisan dan permainan tanda dalam ilustrasi novel. Pradopo (meminjam pendapat Riffatree) mengungkapkan posisi semiotik dalam analisis kritik sastra. Dalam menganalisa karya sastra perspektif semiotik salah satu alternatif yang bisa digunakan adalah metode pembacaan heuristik dan pembacaan retroaktif atau hermeneutik (Pradopo, 2011: 226).

Model pendekatan semiotik ini penulis pandang sebagai model kajian yang sesuai dalam upaya pengungkapan rumusan masalah yang ada. Pemilihan ini berdasarkan kepada beberapa fakta objektif terkait tanda-tanda yang dioperasionalkan di dalam novel tersebut. Sebagaimana dalam deskripsi singkat novel, bahwa karangan tersebut memiliki dua alur pada ilustrasinya. Kedua alur tersebut bersatu pada hampir sepertiga terakhir dari halaman buku. Inilah yang kemudian penulis posisikan sebagai tanda normatif berupa sajian penulisan karya.

Sebagaimana pemahaman paling dasar dari semiotika (tanda), bahwa tanda memiliki dua komponen yang tidak bisa dipisahkan yakni signifier dan signified. Meminjam pandangan Charles S. Pierce, bahwa tanda terdiri dari beberapa model yaitu: ikon, indeks, simbol. (Sobur, 2009: 67) Ikon dimisalkan seperti peta, dimana ada hubungan kongkrit antara petanda dan penanda. Indeks merupakan hubungan kausalitas antara petanda dan penanda, misalnya adanya asap menandakan adanya api. Dan simbol adalah penanda dan petandanya memiliki hubungan alamiah yang ditentukan oleh konvensi suatu komunitas tertentu.

Selain tanda normatif berupa sajian teks, novel Assalamualikum Beijing memiliki tanda-tanda ilustratif yang mengungakapkan citra perlawanan perempuan terhadap konstruksi patriarki. Sosok Asma misalnya yang digambarkan sebagai wanita tangguh yang bebas berkarir menunjukkan perlawanan terhadap dominasi kaum laki-laki dalam dunia karir. Artinya perempuan juga bisa menempuh posisi terbaik dalam karirnya.

Dengan pembacaan karya sastra secara retroaktif (hermeneutik) ini, akan diungkapkan pandangan-pandangan feminisme di dalam karya tersebut baik berupa konstruksi ataupun perlawanan tokoh dalam mendobrak dominasi lelaki. Dengan demikian metode dalam kajian ini menggunakan metode kritik sastra feminis dengan pendekatan semiotik dimana konstruksi tanda yang dibangun berupa sajian teks ataupun ilustrasi novel diarahkan kepada identifikasi posisi perempuan atau bagaimana penggambaran perempuan di dalamnya.

D.      Analisis semiotik “perempuan” dalam novel Assalamualaikum Beijing

1.      “Asma” dan “Anita” sebagai tanda semiotis

Sebagaimana disinggung di muka, bahwa novel ini memiliki dua alur yang sekilas nampak seperti dua kisah yang berbeda. Kisah pertama mengilustrasikan tentang perpisahan Ra dan Dewa kemudian bagaimana Anita berusaha sekuat hati untuk mendapatkan cinta Dewa. Sedangkan kisah kedua mengilustrasikan Zhogwen yang mati-matian mengejar Asma atau Ashima. 

Kisah pertama dalam novel ini merepresentasikan Anita sebagai perempuan yang kurang menjaga kesucian dengan mengumbarkan aurat serta begitu ambisius untuk mendapatkan cinta orang yang ia cintai meskipun dengan jalan nista.

Siluet yang terbentuk dari cara berpakaian Anita mengusik kelelakiannya. (h. 36)

Penggalan kalimat di atas menunjukkan posisi perempuan sebagai biang suatu tindakan seksual yang tidak dibolehkan secara norma.

Satu kesalahan fatal, nafsu sialan. (h. 51)

Penggalan kalimat ini adalah ekspresi penyesalan Dewa setelah terlanjur menggauli Anita yang membuat rencana pernikahannya dengan Ra batal total. Pernyataan ini sekali lagi menunjukkan posisi perempuan yang selalu disalahkan. Dewa tidak mau mengakui kesalahannya dan justru menuduh Anita sebagai biang kejadian haram tersebut.

Di samping posisi Anita sebagai perempuan yang senantiasa tertekan secara psikologis, dia juga terpaksa memilih untuk meninggalkan pekerjaannya guna memokuskan diri mengurus suaminya (Dewa). Berikut kutipannya:  

Perempuan itu sendiri setelah menikah mengundurkan diri dari posisi di kantor yang terbilang lumayan (h.105)

Anita memang hidup dalam keluarga yang memiliki konstruk bahwa wanita harus mengabdikan secara total kepada suami bahkan jika suami tengah marah, maka wajib istri melakukan apapun kepada suaminya untuk mengobati kemarahan. Dikatakan dalam novel tersebut:

Sikap naik darahnya berakibat Dewa berhenti berbicara sepenuhnya. Meskipun sebagai istri dia sudah meminta-minta maaf. Bahkan siap bersimpuh dan mencium kaki lelaki itu. (h. 121)

Namun perempuan itu selalu salah, bahkan setelah dia melahirkan anak yang “tak sengaja” mereka buat, Dewa belum mau membuka hati untuk istrinya itu.

Kalaupun wajah dengan kelopak mata yang terus terpejam itu adalah putranya, dia tidak menerima dan masih menyalahkan ibu sang anak yang telah menggiringnya melakukan perbuatan kotor itu. (h. 214)

Demikian beberapa kutipan pada ilustrasi pertama yang pada prinsipnya memiliki representasi terhadap perempuan sebagai golongan yang pantas disalahkan dan selalu menjadi posisi yang inferior baik dalam hubungan suami istri, keluaga besar bahkan tingkat masyarakat luas (pekerjaan).

Berbeda dengan kisah pertama, representasi perempuan dalam kisah kedua lebih energik dan digambarkan sebagai muslimah yang baik. Asma adalah sosok yang selalu menjaga pribadinya untuk selalu dalam koridor ajaran agama Islam.

Aku kesini meliput, bukan mencari jodoh. Lagi pula mustahil menjalani hubungan dengan lelaki nonmuslim. Itu kan syarat yang tidak bisa ditawar. (h. 26)

Pernyataan ini memiliki makna bahwa seorang Asma memiliki keislaman yang kuat sehingga dalam urusan jodoh pun dia memilih untuk mengarungi hidup bersama seorang muslim yang baik.

Masih banyak peristiwa tragis lain yang membuat kesedihannya semakin tak pantas untuk ditangisi. Orang-orang tertimpa bencana, kehilangan tempat tinggal, bahkan anggota keluarga. Mereka yang berada di daerah perang atau dalam keadaan tertindas seperti yang terjadi di beberapa belahan bumi Allah saat ini. seperti pernah terjadi sebelumnya, demokrasi mendadak kehilangan arti jika kubu islam yang terpilih. Ribuan muslim tewas ditembak, menjadi sasaran tank, bahkan dibakar hidup-hidup dalam tenda saat melakukan demonstrasi damai. (h. 77)

Cuplikan ini sebagai tanda bahwa Asma menggunakan perspektif agama dalam menguatkan diri menghadapi persoalan hidup. Dia banyak menggunakan ayat-ayat keagamaan untuk menghibur diri termasuk dalam menghadapi cobaan-cobaan yang semakin menumpuk.

Memang secara substansi novel Assalamualaikum Beijing memiliki latar religius yang digunakan untuk mengemas isi novel. Salah satu rekan Asma yaitu Sekar juga diceritakan sebagai keluarga yang mengawali rumah tangganya dengan pandangan islami.

Sekar tak bosan mengobati rasa apatisnya tentang cinta. Gadis yang sebelum berjilbab mudah patah hati semudah dia jatuh cinta, dan dikemudian hari malah menikah dengan seseorang yang tidak dia kenal. (h. 87)

Ada ta’aruf, proses perkenalan. Sebagai muslimah kita boleh bertanya apa saja untuk menjajaki kesamaan visi, dan melihat apakah ada hal-hal yang akan menimbulkan rasa sayang. (87)

Mas Ridwan bukan orang yang romantis, aku malah baru nyadar kalau ada laki-laki sekaku dan seformal begitu di pelanet ini, tapi dia baik dan setia. Nggak perlu khawatir dia selingkuh. Salaman sama perempuan lain aja dia nggak mau. (h.88)

(sambil mengutip beberapa hadits nabi berkaitan tentang bersentuhan lawan jenis)

Ketiga cuplikan di atas memiliki tendensi keagamaan yang bermotif “promosi” norma Islam dalam hal intraksi lawan jenis. Apalagi dalam proses menikah, lelaki dan perempuan harus menjalani mekanisme khusus yang disebut sebagai ta’aruf.

Dalam islam tidak ada kamus pedekate tanpa niat menikah. (h. 89)

Setelah menikah akan banyak kesempatan untuk memeluk Ashimanya. Insya Allah. (h. 308)

Selain pernyataan yang syarat nilai-nilai keagamaan, ilustrasi kisah kedua dalam novel tersebut juga menunjukkan kepiawaian seorang wanita dalam memposisikan calon suami dengan memberikan kesempatan kepadanya untuk berbaur dengan keluarganya.

Ra memang mandiri, tetapi juga mengerti kebutuhan dewa untuk tidak hanya diam, duduk dan nonton televisi setiap bertandang ke rumah. (h. 105)

Terlihat bahwa tokoh Asma memang dilukiskan sebagai perempuan dewasa yang gesit dan sosialis serta memiliki semangat berkarir yang tinggi.

Cinta, cukupkah untuk menggerakkan lelaki itu tetap setia di sisi perempuan yang dicintai walaupun separuh kaki perempuan itu begitu dekat dengan kematian? (h.270)

Pernyataan ini sebagai bentuk kesetian Zhogwen untuk mencintai Asma atau Ahsima. Hal ini tentu saja memiliki kecendrungan representatif berupa citra perempuan yang lebih bisa mengolah gengsi dan membuat pria mengalah kepadanya.

Dalam kisah kedua ini bisa disimpulkan bahwa model atau karakter wanita yang dipaparkan oleh pengarang adalah: muslimah yang baik, berkarir secara profesional, mandiri dan cekatan membaca situasi.

Selanjutnya kisah dilanjutkan dalam ilustrasi yang menghubungkan antara kisah pertama dengan kisah kedua. Dalam lembar-lembar tersebut dikisahkan bagaimana ketegaran Asma menghadapi ujian-ujian hidupnya berupa penyakit yang sampai mengancam hidupnya. Hingga kemudian berakhir pada pernikahan Asma dengan Zhogwen.

 

 

2.      Citra perlawanan terhadap inferioritas perempuan

Dalam tinjauan semiotik, jika melihat ilustrasi cerita dalam novel ini terdapat tanda yang satu sama lain berbeda, yakni tanda pertama berupa Anita sebagai perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatannya sehingga membuat seorang lelaki terperdaya dan membuat hubungan yang tidak harmonis dalam pernikahan by accident-nya. Tanda kedua berupa Asma sebagai perempuan yang selalu menjaga kehormatannya bahkan membuat orang non muslim mencintainya dan membuat lelaki tersebut memeluk Islam.

Dari uraian sekilas di atas nampak novel Assalamualikum Beijing memberikan komparasi yang berbasis oposisi biner dimana ada perempuan yang baik dan ada perempuan yang tidak baik. Namun demikian penulis membaca novel ini sebagai suatu tanda yang kompleks. Artinya kedua tanda tersebut (Anita dan Asma) merupakan kesatuan tanda yang tidak bisa dipisahkan.

Sebagaimana dikatakan Riffatree (Pradopo, 2011), suatu pandangan semiotik dalam kajian kritik sastra digunakan pandangan heuristik untuk menemukan makna umum dari suatu teks sastra. Artinya komponen-komponen tanda yang menyusun suatu karya sastra adalah alat interpretasi menuju eksplorasi makna. Dengan demikian untuk menelurkan satu titik pemikiran dalam novel Assalamualaikum beijing kaitannya dengan sudut pandang feminisme digunakan prinsip keutuhan tanda.

Secara substantif kedua tanda itu memiliki citra perlawanan terhadap inferioritas perempuaan dimana “Asma” memberi perlawanan dengan jalur positif sehingga terbentuk perlawanan kongkrit baik secara tindakan maupun struktur bahasa. Adapun Anita menjadi tanda perlawanan terhadap kesemena-menaan lelaki yakni dengan jalan negatif (mengalah), yaitu menerima apapun konsekuensi dari mencintai lelaki pujaan hatinya.

Asma dan Anita sebagai tanda representatif dari karakter perempuan yang ingin ditampakkan dalam novel tersebut, meminjam pandangan Charles S. Peirce, bersifat korelatif dan sinergis (B. Rosenthal, 1994: 25). Artinya kedua tanda tersebut tidak bisa dipisahkan. Untuk itu bisa dikatakan bahwa model perempuan dalam novel Assalamualaikum Beijing terbagi dalam dua karakter yakni perempuan yang tidak menghargai kehormatan dirinya dan perempuan yang senantiasa menjaga kehormatannya. Namun demikian pesan general yang ingin disampaikan dalam novel tersebut tidak sampai disana. Disinilah ruang kosong (Endarswara, 2013) yang patut diisi oleh pembaca, bahwa seorang perempuan harus memilih menjadi perempuan yang senantiasa menjaga kehormatannya. Itulah kenapa diakhir cerita Asma tidak kembali ke Dewa namun justru melabuhkan cintanya pada sosok Zhogwan. Artinya seorang perempuan harus memilih menjadi perempuan yang senantiasa menjaga kehormatannya.

   

E.       Penutup

Novel Assalamualaikum Beijing adalah novel religi yang membicarakan kisah seorang perempuan yang menjalani hidupnya dengan tegar. Sosok perempuan (dalam konsepsi semiotik) merupakan representasi dari konsep feminisme yang digagas oleh penulis novel tersebut. di dalamnya terdapat citra perlawanan terhadap inferioritas perempuan. Berdasarkan pada analisis yang sudah dilakukan bahwa secara karakteristik, perempuan ada yang menjaga kehormatanya dan ada yang tidak menjaga kehormatannya. Adapun pesan general yang ingin disampaikan dalam novel tersebut adalah  perempuan boleh memaksimalkan perannya dalam kehidupan termasuk melampaui aktivitas lelaki asalkan tetap menjaga kehormatannya. Konsep feminisme dalam pandangan novel tersebut jika dipetakan secara latar ideologi mungkin seperti feminisme islami dimana seorang muslimah boleh melakukan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah namun harus selalu dalam koridor keagamaannya.

 

F.        Daftar pustaka    

Endarswara, Swardi. Metodologi Kritik Sastra. 2013. Yogyakarta: Penerbit Obor

Nadia, Asma. Assalamualaikum Beijing. 2014. Depok: Asma Nadia Publishing House

Pradopo, Ahmad Djoko. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. 2011. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rosenthal, Sandra B. Charles Peirce’s Pragmatic Pluralism. 1994. New York: State University of New York Press

Sugihastuti dan Suharto. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya. 2013. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. 2009. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wiyatmi. Kritik Sastra Feminis Teori dan Aplikasinya dalam Sastra Indonesia. 2012. Yogyakarta: Penerbit Ombak.



[1] Diakses melalui internet dalam situs, rumah.astri.com. akses tanggal 20 oktober 2015

[2] Jika melihat alur penulisan karya Asma Nadia, memang penulis ini memiliki kecendrungan untuk menggunakan alur yang sulit ditebak. Misalnya saja pada karyanya yang berjudul Surga Yang Tak Dirindukan (2014).


Diambil dari Buku Membangun Dialog Inkluif Kajian Bahasa, Agama, dan Identitas dalam Dinamika Media, karangan Muhamad War'i, terbit tahun 2021 

Post a Comment for "Contoh Kajian Semiotik dalam Sastra "