Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rasisme dalam Berbahasa

Saya akan teramat senang jika ketika berbicara dengan orang jawa (terutama orang tua) menggunakan bahasa jawa kromo yang memberikan kesan sopan santun yang luar biasa. Hanya, saya sering kecewa ketika, seorang jawa yang saya ajak berbicara dengan bahasa halus tersebut seketika berhenti menggunakan bahasa jawa halus saat mengetahui bahwa saya bukanlah orang jawa asli.

Hal semacam ini dalam kajian linguistik disebut alih kode. Alih kode yang memang tidak sampai membuat percakapan antara dua orang terhenti tapi mengalihkan kode kebahasaan saja, karena alih kode yang dilakukan masih bisa dipahami oleh kedua penutur. Artinya peralihan dari bahasa jawa halus menjadi bahasa indonesia merupakan peralihan kode yang tidak menghentikan percakapan, karena mereka masih bisa saling bercakap dengan bahasa peralihannya (bahasa indonesia).

Bagi saya, model fenomena sebagaimana yang dikemukakan di atas lebih kepada rasisme berbahasa. Yaitu suatu keadaan dimana seseorang enggan untuk meggunkan bahasa khasnya dengan orang lain yang bukan dari ras yang sama. Di dalamnya ada semacam gengsi atau apalah yang membuat dirinya merasa berat untuk melanjutkan percakapan dengan bahasa mereka.

Ada beberapa sebab yang mungkin mempengaruhi hal ini, yang pertama bahasa kromo merupakan bahasa jawa halus yang di dalamnya bisa jadi terdapat kelas sosial yang menentukan kedudukan sosial seseorang di masyarakat. Dengan adanya orang non jawa yang menggunakan bahasa kromo tersebut, penutur jawa merasa tidak terima dan mungkin gengsi untuk melayani seorang non jawa dengan bahasa halus yang seharusnya mereka tuturkan hanya pada kelompok masyarakat dengan kelas sosial tertentu.

Kedua, karena merasa kemampuan bahasa orang yang ia lawan bicara tidak sebanding sehingga dia memilih untuk melakukan alih kode atau peralihan bahasa untuk meyakinkan diri bahwa bahasa satu sama lain tidak berbeda. Bisa jadi penutur aslinya tidak percaya pada kemampuan bahasa halus lawan bicaranya sehingga memutuskan untuk melakukan demikian.

Ketiga, adanya beberapa bahasa halus yang tidak dimengerti oleh penutur bawaan, yakni orang non jawa yang berbicara bahasa jawa halus. Sehingg ketika seorang asli jawa berbicara dengan bahasa halus dengan orang non jawa yang juga memiliki kemampuan bahasa halus namun masih terbatas membuat peralihan kode lebih diutamakan untuk kemudahan berbahasa.

Dari ketiga motif peralihan kode bahasa di atas, berdasarkan survey (small research) yang saya lakukan, penutur jawa halus melakukan alih kode disebabkan lebih banyak oleh poin pertama, dimana perbedaan ras menjadi pemicu utamanya. Dengan demikian, saya berkesimpulan bahwa dalam berbahasa manusia juga terdapat sikap rasisme yang secara alami mengalir di alam bawah sadar budaya berbahasa mereka. hal demikian banyak dipengaruhi oleh adanya kelas sosial yang menentukan pembagian penggunaan bahasa. Biasanya bahasa halus digunakan untuk mereka yang memiliki kelas sosial yang lebih tinggi. 

Post a Comment for " Rasisme dalam Berbahasa"