Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Mural Rakyat Vs Banner Partai Politik

Fenomena mural yang merebak beberapa waktu terakhir mengarah kepada bentuk kritikan terhadap pemerintah di satu sisi, dan bentuk penderitaan rakyat disisi yang lain. Namun sikap tak koperatif pemerintah ditunjukkan dengan menghapus beberapa mural yang dibuat para seniman jalanan yang hadir menyuarakan pesan dari bawah itu. Berbagai protes kemudian muncul, banyak yang menilai bahwa langkah pemerintah tersebut adalah bentuk sikap yang anti kritik.

Penulis sendiri menilai bahwa apa yang terjadi dengan mural rakyat saat ini adalah sebuah ekspresi psikologis yang dalam beberapa hal memang tidak bisa menghindar dari suatu pesan politik, bahwa mural merupakan representasi harapan rakyat yang tak kunjung diwujudkan oleh pemerintah. Dalam kata lain, mural adalah suara rakyat yang lantang dan meminta dengan tegas!

Upaya membatasi gerakan rakyat melalui penghapusan karya seni jalanan yang dibuat masyarakat adalah bentuk kesewenang-wenangan pemerintah dan bukti bahwa pemerintah masih tebal telinga dalam menghadapi suara kritis rakyat kecil.

Ironisnya, saat pesa-pesan yang disampaikan rakyat melalui mural tidak diperhatikan bahkan cendrung dihapus dan dianggap kriminal, para foto-foto tokoh parpol memenuhi berbagai balilho yang ada di pinggir-pinggir jalan besar. Mereka dengan bahasa kampanye yang politis menyuarakan apa yang mereka klaim sebagai ‘demokrasi’.

Ini tentu suatu hal yang kontradiktif, masyarakat yang menyuarakan suara mereka melalui mural dibatasi, sementara wakil rakyat yang mencari perhatian melalui baliho difasilitasi, padahal diantara kedua hal tersebut terbentang perbedaan yang cukup jauh, mural dengan bahasa kejujurannya, dan baliho parpol dengan bahasa ‘kedustaan’nya. “pilihlah partai amal syurga, dia akan membawa anda menuju Islam yang sesungguhnya.”, “Bersama rakyat, Partai Biru akan meperjuangkan kedaulatan ekonomi bangsa”, dan berabagai ucapan serupa yang pada saat pemilihan telah usai, suaranya ikut melerai.

Ada yang aneh dengan bangsa ini, bahasa kejujuran diborgol dan bahasa dusta dibiarkan nongol. Ini suatu fenomena yang menyalahi bahasa nurani kita sebagai manusia. Austin dalam teori Tindakan Bahasa-nya menyebut bahwa suatu ucapan yang tidak sesuai dengan kenyataannya adalah bahasa yang tidak laik (void). Artinya penutur yang tuturannya tidak sesuai dengan kenyataan adalah orang yang ‘jelek’, tidak layak diikuti.

Kita berharap, mural maupun grafiti yang ditorehkan rakyat bisa menjadi media kritik yang bisa dipahami dan dengar oleh pemerintah, bukan justru dimusnahkan dan dianggap kriminal.

Ada pesan yang memprihatinkan dari dibungkamnya suara rakyat dalam mural-mural yang bertebaran, bahwa media apapun untuk mengkritik kini tak lagi bisa dilakukan. Pemerintah telah memasang ‘headset’ di telinga dan mengikat ‘kain hitam’ di mata mereka sehingga apapun bentuk teriakan dan peragaan rakyat tak lagi berbekas. Barangkali inilah awal mula runtuhnya bangunan demokrasi kita!


Sumber gambar: kompas.com dan detik.com

Post a Comment for "Mural Rakyat Vs Banner Partai Politik"