Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Metodologi Penafsiran Kaum Orientalis

 


Secara umum ada dua model metode penafsiran orientalis terhadap al-Quran dan hadits. Kedua model ini merupakan dua model utama pendekatan dalam kajian hermeneutika. Merujuk kepada apa yang dikonsepsikan oleh Schleiermacher, tentang hermeneutika gramatik dan psikologis[1], penafsiran dalam pandangan heremeneutika menurut bapak hermeneutika umum ini memiliki unsur internal bahasa dan aspek individu penafsir. Dari pandangan tersebutlah kemudian penulis menyimpulkan dua model metode yang digunakan oleh kaum orientalis dalam melakukan penafsiran al-Quran. Kedua hal tersebut adalah:

1.      Metode critical of historis

Metode ini menekankan pada aspek historis dalam menginterpretasi sebuah teks. Penekanan pada aspek historis ini berdampak pada status objek-objek kajian. Al-Quran dengan demikian, dipandang sebagai produk sejarah yang perlu dilakukan pembacaan historis terhadapnya. Dengan demikian, status al-Quran sebagai wahyu ataupun kitab suci diragukan dan dilakukan kajian kritis terhadapnya.

Paradigma ini kemudian menjadi arah penafsiran kaum orientalis. Dalam beberapa tafsirannya, kaum orientalis nampak begitu kuat menekankan pada aspek historis. Apa yang ditulis oleh Andrew Rippin dalam bukunya: Approaches To The History Of The Interpretation Of The Quran nampak jelas kajian yang digunakan sangat menekankan aspek historis.[2] Demikian pula dengan buku karangan orientalis lainnya yakni David Samuel Margoliouth dalam bukunya, The Relations Between Arabs And Israelites Prior To The Rise Of Islam. Di dalamnya dia memaparkan bagaimana isi al-Quran kaitannya dengan doktrin-doktrin kaum yahudi yang sudah dimuat dalam kitab mereka[3].  

Secara tehnis metode kritik sejarah ini memilki tujuan untuk menguji otentisitas al-Quran perspektif historis. Langkah yang dilakukan adalah dengan memaparkan kandungan al-Quran kemudian diperbandingkan atau dikomparasikan dengan data-data historis dari agama-agama sebelum islam. Adapun contohnya dapat dilihat pada subtema tentang contoh pendekatan tafsir orientalis.

2.      Metode critical of text

Model ini adalah melakukan penafsiran dengan melakukan kritik teks terhadap apa yang diredaksikan dalam al-Quran. Artinya redaksi al-Quran dikritisi dengan sudut pandang aspek gramatika, semantika atau bidang linguistik lainnya. Sebagaimana pada prinsip yang diusung, kajian ini memilki tendensi pelemahan terhadap al-Quran. Contoh kajian yang kritik teks ini dapat dilihat dalam buku, The History Of The Quran yang ditulis oleh Theodor Noldeke dan rekan-rekannya. Dalam buku tersebut beberapa ayat dalam al-Quran dikritisi dengan melihat aspek lingusitiknya. Misalnya ketika mengkaji surat al-Alaq, yang berbunyi Iqro’ bismi robbikal ladzi Kholaq. Kholaqol insana min ‘alaq..... dst. Menurut Noldeke, objek dalam ayat ini tidak jelas. Kata iqro dalam bahasa Arab merupakan bentuk amer atau perintah yang dalam konteks ini tidak memiliki objek yang jelas. Apakah benar iqro’ disana menunjuk kepada Muhammad? Pertanyaan ini kemudian berlanjut kepada tata cara turunnya ayat tersebut.[4]

Menurut mereka, jika al-Quran adalah kalam Tuhan bagaimana Muhammad akan menangkap ucapan tersebut? dengan asumsi tersebut, kaum orientalis memandang bahwa terjadi predaksian ulang terhadap ayat Tuhan. Pertama al-Quran adalah kalam Tuhan kemudian disampaikan oleh Jibril dengan fenomena-fenomena yang secara logis tidak bisa dikatakan kegiatan berbahasa, seperti bunyi lonceng, melalui mimpi dan sebagainya. Dengan demikian al-Quran tidak lain hanyalah ucapan nabi Muhammad[5].

Dari contoh di atas, lagi-lagi nampak kaum orientalis selalu mengaitkan aspek historis dalam kajiannya. Model ini juga merupakan metode lazim dalam kajian hermenutika. Sebagaimana disinggung di muka, pendekatan psikologis merupakan pendekatan penting dalam kajian heremeneutika. Dalam hal ini, psikologi Muhammad menjadi objek analisis dalam melakukan penafsiran terhadap al-Quran.



[1] Friedrich Schleiermacher. Hermeneutics and Criticism and Other Writings. (1998, New York: Cambridge University Press) hlm. 5

[2] Andrew Rippin. Approaches To The History Of The Interpretation Of The Quran. (1988, Oxford: clarendon press)

[3] David Samuel Margoliouth. The Relations Between Arabs And Israelites Prior To The Rise Of Islam (1924. London: Oxford University Press)

[4] Theodor Noldeke, et.al. The History of the Quran. (2013, Leiden: Yale University) hlm. 67

[5] Ibid. Hlm. 70



Post a Comment for "Metodologi Penafsiran Kaum Orientalis"