Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hadits Tentang Pemimpin dari Suku Quraisy (Analisis Linguistik dan Kajian Konfirmatif)

Masalah kepemimpinan masih menjadi diskusi panjang pada masa modern ini. kenyataan yang timpang antara kajian dan realitas di lapangan membuat diskusi tersebut terus berkembang dari satu tulisan ke tulisan lainnya, bahkan sampai kepada ranah penelitian. Pemimpin ideal dewasa ini mulai dianggap langka karena keberadaannya sangat sulit ditemukan. Memang banyak sekali pemimpin yang bercitra seolah menjadi pemimpin ideal namun ketika amanat telah diberikan kepadanya, justru yang terjadi sebaliknya.

Terkait tentang pemimpin, ada sebuah hadits dari Rasulullah Saw yang diriwiyatkan oleh imam Ahmad bin Hambal dalam kitabnya “Musnad Ibnu Hambal,” Hadits tersebut mengatakan bahwa “pemimpin itu dari bangsa Quraisy.” Mengingat seluruh ucapan nabi adalah sunnah, lantas yang menjadi pertanyaan adalah apakah dengan demikian pemimpin itu harus dari bangsa Quraisy atau Arab pada saat ini?

Jika diambil hukum seperti di atas, maka akan banyak pandangan-pandangan bahwa pemimpin sejati itu berasal dari Arab, mungkin inilah juga yang melatari beberapa kelompok dalam Islam dewasa ini sehingga berkeinginan untuk mewujudkan satu kepemimpinan yang utuh. Dan tidak jarang, orang-orang panutan mereka adalah orang-orang Arab.

Dalam makalah ini, penulis akan memaparkan uraian tentang hadits di atas yang penulis kaji secara komprehensif, mulai dari analisis linguistik sampai pada latar historis pada waktu itu. hal ini penting untuk meluruskan pemahaman kita tentang suatu hadits agar tidak berpikiran sempit dan cendrung tekstual.

Analisis dalam makalah ini menlingkupi analisis linguistik, kajian komfirmatif substantif, serta relevansinya dengan beberapa hadits maupun ayat-ayat al-Quran. Pada akhir pembahasan akan dipaparkan kajian praktis yakni kontekstualisasi hadits untuk zaman sekarang. Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua termasuk untuk lahirnya kritik dan saran untuk perkembangan ilmu pengetahuan ke depannya.    

Hadits tentang pemimpin dari suku Quraisy

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا سُكَيْنٌ حَدَّثَنَا سَيَّارُ بْنُ سَلَامَةَ سَمِعَ أَبَا بَرْزَةَ

يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْأَئِمَّةُ مِنْ قُرَيْشٍ إِذَا اسْتُرْحِمُوا رَحِمُوا وَإِذَا عَاهَدُوا وَفَوْا وَإِذَا حَكَمُوا عَدَلُوا فَمَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ مِنْهُمْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

(AHMAD - 18941) : Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud telah menceritakan kepada kami Sukain telah menceritakan kepada kami Sayyar bin Salamah; telah mendengar dari Abu Barzah -merafa'kan(menghubungkan hadits) kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Pemimpin itu dari bangsa Quraisy, karena apabila mereka dimintakan untuk menyayangi, maka mereka akan menyayangi, apabila mereka mengadakan perjanjian maka mereka akan menepatinya, apabila mereka menetapkan hukum, maka mereka akan berbuat adil. Dan barangsiapa yang tidak melaksanakan hal tersebut diantara mereka, maka baginya akan mendapat laknat dari Allah, malaikat dan manusia seluruhnya."

Analisis linguistik dan kajian komfirmatif

الأئمة من قريش lafazh aimmah jama’ dari imamun yang berarti pemimpin. Adapun lafaz Quraisy menunjuk kepada salah satu suku di Arab yang merupakan sukunya nabi Muhammad. Lafaz ini secara harfiah memiliki arti “para pemimpin itu dari golongan Quraisy.” Hal ini menunjukkan bahwa nabi mengunggulkan suku Quraisy dibandingkan dengan suku-suku yang lainnya di Arab pada waktu itu. Apakah ini kemudian berarti bahwa nabi Muhammad seorang yang rasis dan hanya mementingkan golongannya saja?

Dalam bahasa Arab ada beberapa kata yang memiliki makna pemimpin. Yang pertama seperti redaksi di atas, imamun (إمام). Kemudian ada kata auliya’ (أولياء) yang sering digunakan dalam al-Quran dan kemudian ada juga kata umara’ dan ro’in, yang semuanya berarti pemimpin. Pertanyaan kemudian adalah apa perbedaan kata-kata tersebut secara makna?

Mari kita telusuri kata demi kata ini secara komprehensif. Dalam kamus al-Mu’jamul Wasith, kata imam yang memiliki bentuk jama’ aimmah, berarti: “orang yang menjadi pegangan manusia atau yang lainnya. Seperti imam sholat.”[1] Amir (أمير) berarti “memerintah sesuatu atas mereka.” Adapun waliyun yang memiliki jama’ auliya’ memiliki arti “setiap orang yang memimpin suatu perkara atau menegakkannya.”[2]

Dari pemaknaan leksikal di atas dapat disimpulkan bahwa kata Imamun, memiliki pemaknaan lebih condong kepada ritual keagamaan, yakni dalam hal pemimpin solat atau pemimpin suatu majelis ilmu. Adapun kata waliyun, memiliki makna yang umum, seperti wali bagi seorang wanita yang akan diakadkan, wali bagi suatu kelompok masyarakat (kabupaten, provinsi) dan sebagainya. Adapun amir memiliki makna lebih kepada tradisi konstitusional, dalam hal ini negara.

Amir dan wali memiliki kesamaan makna secara penggunaannya, namun jika kita melihat keterangan dalam al-Mu’jam al-Wasith, maka makna wali lebih umum dan lebih general, karena wali bisa digunakan dalam hal pemerintahan maupun urursan-urusan individual atau keagamaan.  

Untuk lebih komprehensif analisis linguistik ini, saya akan tunjukkan beberapa ayat al-Quran yang menggunakan kata auliya’ dan aimmah

51.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.[3]

57.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang Telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.[4]

27.  Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia Telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya kami Telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.[5]

23.  Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan bapa-bapa dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim[6].

73.  Kami Telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami dan Telah kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan Hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,[7]

44.  Dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?"[8]

Dari keterangan beberapa ayat di atas, semakin jelas bahwa kata auliya’ memiliki fungsi lebih umum atau menyeluruh dari kata aimmah. Dari sekian banyak ayat yang kami temukan di atas, aimmah hanya ditemukan dalam surat alanbiya’ ayat 73. Kandungan ayat tersebut menunjukkan kepada hal yang sifatnya ritual keagamaan. Adapun kata auliya’ diguanakan dalam menyebutkan pemimpin-pemimpin dari kaum kafir, dari setan-setan dan sebagainya.

Memang cukup rumit untuk mengidentifikasi secara kongkrit perbedaan kedua istilah ini, karena dalam penggunaannya menunjukkan banyak kesamaan. Untuk menentukan kesimpulan dalam diskusi pada kali ini, maka kesimpulan bisa kita tarik pada perspektif masing-masing.

Kaitan antara hadits di atas dengan ayat-ayat al-Quran yang disebutkan, kita bisa melihat bagaimana redaksi aimmah dan auliya’ digunakan. Konten yang ditampilkan al-Quran dalam ayat yang menggunakan auliya’ lebih umum dari pada konten yang ditampilkan al-Quran ketika menggunakan aimmah. Dengan demikian, aimmah bisa kita katakan digunakan hanya dalam urusan keagamaan.

Secara gramatikal, lafaz al-aimmatu min Quraisy diikuti dengan huruf syarat idz, yang berarti “jika.” Struktur kalimat antara al-aimmatu min Quraisy tidaklah sempurna tanpa disambungkan dengan kalimat setelahnya. Artinya, kalimat al-aimmatu min Quraisy membutuhkan keterangan lebih lanjut yakni pada lafaz idzas turhimu, rahimu dan seterusnya. Dengan demikian secara gramatika hadits ini memiliki makna bahwa seorang Quraisy itu menjadi pemimpin “jika” mereka memiliki sifat penyayang, menepati janji dan adil sebagaimana disebutkan dalam hadits tersebut.   

Dari analisis linguistik di atas, bisa dikatakan bahwa hadits diatas memiliki makna umum dan khusus. Makna umum maksudnya, bahwa pemimpin disana yang dimaksud adalah pemimpin pada umumnya, yakni sebagaimana karakteristik pemimpin yang disebutkan kemudian. Di samping itu juga memiliki makna khusus yakni pemimpin yang paling tepat untuk masyarakat Arab pada waktu itu adalah pemimpin dari bangsa Quraisy karena mereka memiliki sifat adil, penyayang dan menepati janji. 

Kemudian kenapa orang orang Quraisy yang harus menjadi pemimpin keagamaan umat islam pada waktu itu? jawabnya tentu sudah jelas, karena nabi sendiri adalah seorang kaum Quraisy, dan sahabat-sahabat beliau yang terkemuka adalah orang-orang suku Qurasiy, dan beberapa sahabat yang faqih yang sudah rasul ajarkan tentang pemahaman keagamaan kebanyakan dari suku Quraisy[9], maka sudah barang tentu Rasulullah mengedepankan suku Quraisy dalam persoalan kepemimpinan.

Hadits-hadits yang berkait

Hadits Ahmad nomor 21 tentang memilih pemimpin bukan karena kecintaan.

(AHMAD - 21) : Telah menceritakan kepada kami Yazid Bin Abdurrabbih dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Baqiyah Bin Al Walid dia berkata; Telah menceritakan kepadaku seorang syaikh dari Quraisy dari Raja' Bin Haiwah dari Junadah Bin Abu Umaiyah dari Yazid bin Abu Sufyan dia berkata; Abu Bakar berkata ketika mengutusku ke syam; "wahai Yazid sesungguhnya kamu memiliki kerabat, semoga kamu tidak mengedepankan mereka dalam kepemimpinan, dan hal itulah yang paling aku takutkan darimu, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; " Barangsiapa memimpin suatu urusan kaum muslimin, kemudian mengangkat seseorang untuk mereka atas dasar kecintaan, maka baginya laknat dari Allah, dan Allah tidak akan menerima amal perbuatan wajibnya dan juga amal perbuatan Nafilah darinya, sampai Dia memasukkannya kedalam neraka jahannam, dan barangsiapa memberikan kepada seseorang batasan Allah, kemudian melanggar sesuatu di dalam batasan Allah tanpa haknya, maka baginya laknat dari Allah, " atau dia berkata: "Terlepaslah darinya jaminan Allah."

 (BUKHARI - 6904) : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al A'masy dari Abu Wail dari Abu Musa berkata, "Datang seseorang kepada Nabi Shallalahu'alaihiwasallam dan berujar, 'Ada seseorang yang berperang karena dorongan fanatisme, atau berperang karena ingin memperlihatkan keberanian, dan ada yang berperang karena ingin dilihat orang, siapakah yang disebut fi sabilillah? ' Nabi menjawab: "Siapa yang berperang agar kalimatullah menjadi tinggi, ia berada fii sabilillah."

(IBNUMAJAH - 3938) : Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal As Shawaf telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Ghailan bin Jarir dari Ziyad bin Riyyah dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berperang di bawah bendera kefanatikan dan menyeru kepada fanatisme, atau marah karena fanatisme, maka matinya menyerupai mati jahiliyyah."

(AHMAD - 18906) : Telah mengabarkan pada kami Hasan bin Musa, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia menyebutkan dari Manshur bin AlMu'tamar dari Abu wa'il ia berkata; Abu Musa berkata; "Seseorang menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam atau seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang beliau sedang duduk menundukkan kepala beliau, ia bertanya; "Apakah yang disebut berperang di jalan Allah 'azza wajalla, karena sungguh telah ada pada kami seorang yang berjuang karena dorongan fanatisme atau juga berperang karena kemarahan, apakah mereka akan beroleh pahala? Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengangkat kepala beliau pada orang tersebut dan kalaupun tidak, seakan beliau berdiri atau hanya sekedar duduk (keraguan ada pada Zuhair bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidaklah mengangkat kepala beliau seraya bersabda: "Barang siapa berperang agar kalimat Allah yang tinggi maka ia berada di jalan Allah 'azza wajalla."

Asbabul wurud makro

Secara khusus penulis tidak menemukan sebab keluarnya hadits ini, namun jika kita menelusuri sejarah, maka kita akan menemukan bahwa pada awal kemunculan Islam terjadi clash atau benturan antara kebudayaan Arab dan ajaran Islam yang dibawa nabi Muhammad. Pada waktu itu, suku yang paling kuat dan ditakuti di Jazirah Arab adalah suku Quraisy[10], hal tersebut disebabkan karena suku Quraisy adalah suku yang memiliki keberanian yang tinggi dalam hal berperang.

Melihat kenyataan ini, maka sudah barang tentu Rasulullah akan mempertimbangkan hal tersebut dalam menegakkan perjuangannya, maka dalam hal kepemimpinan Rasulullah memilih orang-orang suku Quraisy, ini juga bisa jadi dipengaruhi oleh sosiokultural bangsa Arab pada waktu itu, bahwa mereka memiliki kecendrungan menjadi pemimpin karena ingin dipuji dan dihormati.

Analisis generalisasi

Hadits riwayat imam Ahmad nomor 18941 secara redaksional terkesan menunjukkan fanatisme golongan, yakni fanatisme terhadap kaum Quraisy. Namun demikian, hal ini segera bisa diluruskan dengan beberapa hadits maupun ayat yang berkaitan dengan hadits tersebut. misalkan saja hadits riwayat Bukhari dan Ibnu Majjah, disana ada hadits yang mengatakan bahwa fanatisme merupakan hal yang tidak boleh di lakukan di dalam beragama. Dengan demikian, maksud dari hadits di atas bisa kita maknakan sebagai perwakilan dari karakter seorang pemimpin.  

Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Quraisy memiliki loyalitas dan karakter kepemimpinan  yang bagus di antara suku-suku Arab lainnya, seperti memiliki kasih sayang, menepati janji dan sebagainya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam konteks kekikinian pesan yang ingin disampaikan hadits tersebut adalah bahwa seorang pemimpin harus memiliki kasih sayang yang baik, totalitas yang bagus dan mampu berbuat adil dalam menjalankan kepemimpinannya.

Secara psikologi sosial, hadits tersebut bisa memiliki makna penyanjungan kepada bangsa Quraisy pada waktu itu. hal ini dilakukan nabi agar mereka memberikan dukungan kepada nabi. Ini tentulah juga untuk menepis anggapan orang Quraisy pada waktu itu, bahwa nabi Muhammad hadir untuk mengambil kedudukan mereka[11]. Mereka juga berpendapat bahwa nabi Muhammad adalah seorang penyihir[12]. Semua anggapan dan penilain orang Quraisy waktu itu karena ketakutakan bahwa kekuasaan mereka akan bergeser bahkan musnah digantikan kekuasaan Muhammad. Hal semacam ini bisa kita analisis menggunakan teori sosial yang ada.

Ibnu Kholdun, seorang sosiolog Islam, memberikan suatu konsep sosial yang dikenal dengan teori asobiah. Teori asobiah sering kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Solidaritas Sosial. Pada prinsipnya, teori asobiah menyatakan bahwa seorang pemimpin membutuhkan dukungan suatu komunitas untuk keberlangsungan kepemimpinannya[13]. Dalam hal ini Rasulullah memuji suku Qurasiy pada waktu itu untuk membentuk asobiah bangsa Arab agar memberikan dukungan kepadanya.

Kritik praktis

Melihat fenomena yang berkembang saat ini, dimana pemimpin seringkali bertingkah kontradiktif dengan karakter pemimpin yang sesungguhnya, seperti banyaknya kasus-kasus korupsi yang membelit para pemimpin kita dewasa ini. di samping itu, tidak sedikit pula pemimpin kita yang terjerat kasus hukum terkait pembunuhan, pelecehan seksual dan sebagainya. Bercermin dari hadits di atas, seorang pemimpin seyogyanya memiliki karakater kasih sayang, adil, dan total dalam mengemban amanah mereka. seorang pemimpin sudah seharusnya bersikap jujur, menepati janji, adil dan sebagainya agar hakikat kepemimpinan itu bisa berdiri dengan utuh.

Jika melihat fenomena di indonesia, maka beberapa poin penting dalam hadits ini bisa diterapkan dalam aktivitas kepemimpinan di negeri ini. hingga saat ini Indonesia masih jauh dari cita-cita kemerdekaannya. Bahwa kedaulatan dalam segala bidang adalah harga mati untuk mewujudkan indonesia yang merdeka, namun demikian kenyataan yang kita hadapi dewasa ini membuat kita miris.

Fenomena yang berkembang di di negeri kita dewasa ini adalah para pemimpin yang tidak bisa menunaikan tanggung jawabnya dengan benar, masyarakat dengan demikian mengalami perasaan tidak puas dan menaruh ketidakpercayaan. Negeri kita kemudian dilanda krisis kepercayaan, yaitu suatu keadaan dimana begitu sulit menjadi orang yang percaya kepada pemimpin, sesama bahkan mungkin diri sendiri.

Apa yang dikonsepsikan nabi Muhammad dalam hadits di atas sungguhlah relevan untuk membangun suatu tata pemerintahan yang baik, yakni dalam rangka memperkaya kapasitas seorang pemimpin. Sudah tidak penting lagi melihat warna atau partai dalam menentukan pemempin. Kita harus bisa lebih objektif menilai seseorang yang akan duduk sebagai pemimpin kita. Mereka dalam hal ini haruslah bersikap sebagaimana layaknya pemimpin. Bukan mereka yang hanya memiliki kepedulian pada masa kampanye saja.

Sikap dengan merujuk pada hadits di atas adalah suatu keadaan yang alamiah (tidak dibuat-buat dan tidak juga musiman), dia lahir dalam jiwa seseorang yang bersih. Untuk itu, dalam menentukan seorang pemimpin, sekali lagi kapasitasnya harus diukur secara objektif.    

Kesimpulan

Dari kajian tentang hadits di atas, baik penelaahan secara etimologis maupun terminologis, maka bisa kita simpulkan sebagai berikut:

1.      Hadits di atas memiliki makna informatif tentang karakter kepemimpinan orang Arab pada masa itu, artinya hadits tersebut tidak bersifat perintah.

2.      Hadits tersebut menunjukkan pengunggulan suku Quraisy sebagai pemimpin (dalam hal agama), karena kata aimmah lebih kepada pemimpin dalam hal keagamaan. Secara konteks, hal tersebut tentulah hal yang wajar karena kebanyakan sahabat nabi yang faqih dalam hal agama adalah para sahabat dari kaum Quraisy.

3.      Kontekstualisasi hadits ini untuk masa kini ada pada persyaratan yang diungkapkan nabi pada hadits itu, bahwa seorang pemimpin harus bersikap adil, amanah, kasih sayang.

Referensi

Anis, Ibrahim. dkk. Almu’jam al-wasith. 1973, Qairo: Darul Ma’arif

Hitty, Philip K. History of The Arabs . 2010. Yogyakarta: PT. Serambi Ilmu

Ibnu Kholdun. Muqoddimah. 2006. Qairo: al-Haiah Almishriah al-Amah Lilkitab

Ibnu Hisyam. Syiroh Nabawiyah. tanpa tahun. Qairo: Darul Ma’arif

Lapidus, Ira. Sejarah Sosial Umat Islam. Terj. 1999, Jakarta: PT. Raja Grafindo

Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. 2004. Jakarta: Prenada Media



[1] Ibrahim anis dkk. Almu’jam al-wasith Juz I (1973, Qairo: Darul Ma’arif). H. 27

[2] _____________. Almu’jam al-Wasith Juz II. H. 1058

[3] Q.s. Al-Maidah ayat: 51

[4] Q.s al-maidah ayat: 57

[5] Q.S. Al-Maidah ayat: 25

[6] Q.S. At-Taubah ayat: 23

[7] Q.S al-Anbiya’ ayat: 73

[8] Q.S. as-Syuara’ ayat 44.

[9] Musyrifah Sunanto. Sejarah Islam Klasik; Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (2004, Jakarta: Prenada Media) H. 21

[10] Philip K Hitty. History of The Arabs, Terj (2010, Yogyakarta: PT. Serambi Ilmu) Hal. 142

[11] Ibnu Hisyam. Syiroh Nabawiyah.

[12] Ira lapidus. Sejarah Sosial Umat Islam. terj (1999, Jakarta: PT. Raja Grafindo), hal 36-38

[13] Ibnu Kholdun. Muqoddimah. (2006, Qairo: al-haiah almishriah al-Amah Lilkitab) hal. 197

Post a Comment for "Hadits Tentang Pemimpin dari Suku Quraisy (Analisis Linguistik dan Kajian Konfirmatif)"