Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Alih Kode dan Campur Kode; Pengertian, Contoh dan Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya

Pengertian

          Alih Kode atau code switching adalah peristiwa peralihan dari satu kode ke kode yang lain dalam suatu peristiwa tutur, misalnya penutur yang sedang menggunakan bahasa Jawa (bJ) beralih menggunakan bahasa Arab (bA). Alih kode merupakan salah satu aspek ketergantungan bahasa (language dependency) dalam masyarakat multilingual, di mana masing-masing bahasa masih cenderung mendukung fungsi masing-masing, dan masing-masing fungsi sesuai konteksnya.[1] Hal ini sama seperti yang telah diungkapkan oleh Hudson, “Anyone who speaks more than one language chooses between them according to circumstances.”[2]

Apple (1976) mendefinisikan alih kode itu sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena berubah situasi dan alih kode itu terjadi antar bahasa. Jika Apple menyatakan demikian, lain halnya dengan Hymes. Hymes (1875) menyatakan alih kode itu bukan hanya terjadi antarbahasa, tetapi dapat juga terjadi antar ragam atau gaya yang terdapat dalam suatu bahasa. Dengan demikian, alih kode merupakan gejala peralihan pemakaian bahasa, ragam dan gaya karena perubahan peran dan situasi dalam tuturan.[3]

Alih kode terbagi menjadi dua jenis, yaitu situational code switching dan metaphorical code switching.[4] Situational code switching adalah perubahan kode bahasa ke kode bahasa lain yang terjadi sebab perubahan situasi dan dapat diidentifikasi.[5] Peristiwa alih kode ini biasanya terjadi pada situasi tertentu, di mana terjadinya suatu perubahan situasi yang nampak jelas seperti halnya kedatangan orang baru dan dari etnik yang sama.[6] 

Contoh percakapan antara si A (orang Jawa) si B dan si C (keturunan Arab):

A : “Mas Ahmad, jare dino iki habib Idrus teko Surabaya kate mrene a?”

     (Mas Ahmad, katanya hari ini habib Idrus dari surabaya mau datang ya?)  

B : “Enggeh Pak Karim, di entosi mawon. Kedap maleh lak dugi a.”

     (Iya Pak Karim, di tunggu saja. Sebentar lagi juga datang)

C : Assalamu’alaikum Ahmad, kef kholaq?

     (Assalamu’alaikum Ahmad, bagaimana kabarmu?)

B : “Wa’alaikum salam. Alhamdulilah, kher habib. Tafad}ol jlis huna.”

     (Wa’alaikumsalam. Alhamdulillah, baik habib. Silahkan duduk di sini)

C : “Aiwa, syukron.”

     (Baik, terima kasih)

Contoh di atas nampak jelas terjadinya alih kode, di mana pada mulanya si A dan si B bercakap-cakap dengan bJ. Sebab kedatangan si C, si B pun beralih berbahasa Arab sebagai suatu sambutan kepadanya. Namun, alih kode juga terjadi tidak hanya karena kedatangan orang ketiga. Alih kode juga bisa terjadi antar orang yang hubungannya di rumah sebagai tetangga dan rekan kerja. Ketika di rumah mereka menggunakan bahasa sehari-hari. Tapi, ketika mereka bertemu di kantor, karena statusnya tersebut sebagai pegawai di kantor. Maka saat bertemu di kantor mereka beralih bahasa menjadi sebuah interaksi formalitas.[7]

Sedangkan Metaphorical code switching digunakan ketika penutur ingin menekankan sesuatu pada topik pembicaraannya atau menyebutkan sebuah kutipan (quotes) ditengah-tengah pembicaraan yang sedang berlangsung.[8] Hal ini terjadi dalam acara pengajian atau pemberian nasehat.

Contoh si H adalah seorang ustaz| yang sedang mengisi pengajian. Saat ceramah beliau menggunakan bI atau bJ yang kemudian mengutip salah satu hadis| yang disebutkan dalam bA.

“Dadi menungso iku dadio seng manfaat kanggo wong liyo. خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ .”(Jadi orang itu, jadilah orang yang bermanfaat untuk orang lain) 

            Selain alih kode yang telah dipaparkan di atas, Thelender juga menjelaskan mengenai alih kode dan campur kode. Bila dalam suatu peristiwa tutur terjadi peralihan dari satu klausa suatu bahasa ke klausa bahasa lain, maka peristiwa yang terjadi adalah alih kode. Tetapi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun frase-frase yang digunakan terdiri dari klausa dan frase campuran (hybrid clauses, hybrid phrases), dan masing-masing klausa atau frase itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri, maka peristiwa yang terjadi adalah campur kode (code mixing) bukan alih kode.[9]

            Spolsky (1998) menyebutkan bahwa campur kode ini terjadi pada para imigran yang sering menggunakan banyak kata dari bahasa baru mereka dengan menggunakan bahasa lama mereka. Hal ini dikarenakan banyak orang yang mengerti ketika mereka menggunakan dua bahasa tersebut. Hal ini dapat dilihat pada bahasa Inggris Jamaika dan bahasa Inggris New Zealand. Para pengguna bahasa tersebut menambahkan leksikon lokal sebagai fitur mereka yang paling jelas.[10]

Pada masyarakat bilingual atau multilingual model percakapan yang digunakan oleh penutur bisa berganti antara dua kode atau lebih untuk menyampaikan maksud afektif dan informatif. Peralihan ini biasanya terjadi sebab kurangnya pemahaman seseorang terhadap suatu bahasa. Juga karena bahasa kedua tersebut dapat mewakili dari bahasa ibunya, begitupun sebaliknya. Ketika berbicara bahasa kedua, orang-orang akan sering menggunakan istilah dari bahasa ibunya karena tidak tahu istilah dalam bahasa kedua. Hal semacam ini yang terjadi dalam peristiwa campur kode (code mixing).[11]

Contohnya si A menyampaikan suatu informasi kepada si B :

A : “Bah, cak Ahmad wau dalu meninggal.”

     (Yah, pak Ahmad tadi malam meninggal)

B : “Iyo ta? Innalillahi, wa inna ilaihi roji’un.”

     (Iya kah? Innalillahi, wa inna ilaihi roji’un)

Percakapan antara si A dan si B di atas menggunakan bahasa campuran antara bA, bJ dan bI. Kata yang digaris bawahi merupakan bA yang mewakili bahasa ibu, sebab mayoritas masyarakat beragama Islam. Sehingga, jika ada orang yang meninggal secara tidak sadar langsung mengucap kata tersebut.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Alih Kode dan Campur Kode

Tuturan yang kita lakukan tidak lepas dari apa yang diungkapkan Fishman  yang berkaitan erat dengan apa yang dibicarakan, kepada siapa kita berbicara, dengan bahasa apa, kapan, dan dengan tujuan apa. Berdasarkan aspek tersebut, penutur melakukan alih dan campur kode dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya (1) penutur, (2) mitra tutur, (3) perubahan situasi dengan hadirnya orang ketiga, (4) perubahan dari formal ke informal, (5) perubahan topik pembicaraan, (6) topik/ pokok pembicaraan.[12]


[1] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik.., hlm. 107-108

[2] Richard Hudson, Sociolinguistics (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), hlm. 51

[3] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik..., hlm. 107-108

[4] Ronald Wardhaugh, An Introduction to Sociolinguistics..., hlm 104

[5] Holmes Janet, An Introduction to Sociolinguistics, (New York: Longman Publishing, 1992), 43. Lihat dalam Richard Hudson, Sociolinguistics..., hlm. 52

[6] Ibid., hlm. 41

[7] Holmes Janet, An Introduction..., hlm. 43

[8] Ibid., hlm. 48

[9] Abdul Chaer dan Leonie Agustina, Sosiolinguistik..., hlm. 115

[10] Bernard Spolsky, Sociolinguistics (Oxford: Oxford University Press, 1998), hlm 49

[11] Holmes Janet, An Introduction..., hlm. 50

[12] Ibid, hlm. 108

Post a Comment for "Alih Kode dan Campur Kode; Pengertian, Contoh dan Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya"