Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kajian Balagah Surat Al-Ikhlas

 


قل هو الله أحد. الله الصمد. لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد.

Dalam ayat tersebut lafaz Allah ditunjukkan dengan dhomir (kata ganti) huwa yang secara gramatikal digunakan untuk menunjukkan kata benda untuk orang ketiga tunggal. Secara leksikal huwa berarti “dia laki-laki.” Pertanyaannya adalah, apakah kemudian dengan ayat tersebut, menegaskan bahwa Allah itu laki-laki?

Dalam kajian lingustik Arab, kata ganti (dhomir) untuk orang ketiga adalah, huwa (untuk laki-laki tunggal), hum (laki-laki jamak), hiya (perempuan tunggal), hunna (perempuan jamak). Di antara keempat dhomir untuk orang ketiga tersebut, huwa merupakan dhomir yang paling kuat secara logika bahasa, hal ini karena huwa menunjukkan kepada laki-laki. Adapun laki-laki dalam tradisi arab harus lebih kuat dan menjadi pengayom bagi perempuan.

Dari pemaknaan dhomir huwa tersebut, maka jika kita kembali kepada ayat dalam surat al-Ikhlas tersebut, maka penggunaan kata huwa untuk menunjuk dzat yang maha segalanya adalah karena huwa adalah dhomir yang paling kuat secara logika bahasa, maka sudah sepantasnyalah untuk menggunakan huwa sebagai dhomir untuk menunjukkan dzat yang maha kuat, maha segalanya itu.

Secara stilistika (balaghoh), ada pemaknaan yang lebih mendalam tentang penggunaan huwa dalam ayat ini. Ulama’ balaghoh mengatakan bahwa dalam ayat ini terdapat unsur psikologi bahasa yang berpengaruh pada implikasi makna yang ditimbulkan. Sebagai gambaran untuk melengkapi poin ini, perhatikan ilustrasi kebahasaan berikut:

Adek: “kak dia datang....”

Kakak: “ahhh,, siapa dek?”

Adek: “diaaa...”

Kakak: (memaksa) siapa?

Adek: “dia kak Doni.”

Pada ilustrasi percakapan di atas, sang kakak pada kenyataannya adalah kekasih Doni. Mungkin anda pernah menempati posisi kakak di atas ketika kita diberi penasaran karena orang yang kita lawan bicara menggunakan kata, “dia” dalam menunjukkan seseorang yang spesial buat kita. Dalam hati, ada kemenarikan hati untuk segera mengetahui, siapa “dia” yang dimaksudkan oleh lawan bicara.

Dari penjelasan di atas, maka demikianlah pula dengan lafaz ‘huwa’ dalam surat al-Ikhlas, dia memiliki fungsi “membuat lawan bicara penasaran atas objek yang tengah kita bicarakan.” Implikasi yang diinginkan dengan memberikan getaran penasaran pada lawan bicara adalah efektifitas komunikasi. Dalam teori komunikasi kita bisa melihat bahwa untuk mengambil perhatian lawan bicara, penting untuk membuat mereka penasaran. Jika dalam pembicaraan biasa saja mencuri perhatian penting untuk efektifitas komunikasi, maka Allah dalam hal ini menggunakan model ini dalam komunikasi tauhid. Komunikasi yang tertinggi menurut saya, karena ini tentang arah ideologi seseorang dalam hidupnya.

 

Post a Comment for "Kajian Balagah Surat Al-Ikhlas"