Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Tingkatan Manusia Menurut Al-Ghozali dan Relevansinya di Tengah Pandemi

Dalam kitab Bidayatul Hidayah, karangan Imam Al-Ghozali yang begitu masyhur itu, disebutkan tingkatan manusia dilihat dari fungsi sosialnya (kebermanfaat bagi orang lain). Ada tiga tingkatan manusia menurut Imam AL-Ghozali.

Pertama, tingkatan orang yang menempati kemuliaan dan kebaikan. Golongan ini adalah golongan yang setara dengan malaikat, yakni orang-orang yang bermanfaat bagi orang lain. Peduli kepada mereka. Memberikan kebahagiaan kepada mereka.

Kedua, tingkatan orang yang setara dengan binatang dan benda-benda mati. Golongan ini adalah orang-orang yang tidak memberikan manfaat kepada orang lain, seperti halnya mereka tidak memberikan mudarat (keburukan) kepada orang lain.

Ketiga, tingkatan orang yang menempati posisi binatang yang berbisa dan membahayakan, seperti kalajengking, singa, ular berbisa, dan binatang-bintang buas lainnya. Tingkatan ini adalah tingkatan orang yang tidak memberikan manfaat kepada orang lain, bahkan orang seperti ini hanya memberikan mudarat (keburukan) kepada mereka.

Tiga tingkatan ini merupakan interpretasi Al-Ghozali dalam melihat pola tingkah manusia dalam konteks kebermanfaatan mereka kepada sesama mahluk Tuhan.

Ada pelajaran mendasar yang bisa kita petik dari 3 pembagian Syaikhul Islam ini tentang manusia, bahwa derajat kemanusiaan kita tergantung pada bagaimana kita memperlakukan manusia yang lainnya.

Dalam tinjauan semiotik, terutama dalam perspektif teori representasi, mengumpamakan orang yang bermanfaat kepada orang lain sebagai orang yang setara malaikat (mahluk Tuhan yang mulia, tak pernah berbuat dosa, hanya beribadah kepada-Nya), menunjukkan bahwa sikap kecendrungan berbuat buruk manusia bisa ditutupi dengan memberikan manfaat kepada sesama. Referensi malaikat diarahkan kepada makna representatif yang menunjukkan cermin kemanusiaan. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali sangat mendorong manusia untuk peduli kepada sesamanya.

Golongan kedua, menunjukkan bahwa seorang yang tak bermanfaat orang lain, meski tidak membuat keburukan bagi orang lain, tetap posisinya sebagai binatang. Ini tentu suatu perumpaan yang satir dan pada titik tertentu menusuk karena manusia yang tak manfaat disamakan dengan binatang dan benda mati. Simbol ini juga menunjukkan sikap al-Ghozali yang tidak suka kepada orang yang hanya cukup dengan diri mereka sendiri, tak memberikan dampak apapun kepada sesama mereka.

Adapun golongan yang ketiga, yakni menunjukkan bagaimana Al-Ghazali memberikan teguran yang keras dengan mengumpamakan manusia yang hanya bisa memberikan kemudaratan kepada orang lain sebagai binatang buas, beracun, dan mematikan. Golongan ini sangat dibenci oleh AL-Ghozali dengan pernyataannya “Jangan sampai menjadi golongan yang ketiga”.

Di masa pandemi ini, penggolongan Al-Ghozali tentang kriteria manusia ini penting untuk direfleksikan dimana kepedulian, kebermanfaatan, dan perlindungan kepada orang lain adalah hal sangat penting dilakukan di tengah segala kesulitan dan tekanan yang bertubi-tubi ini.  

Post a Comment for " Tingkatan Manusia Menurut Al-Ghozali dan Relevansinya di Tengah Pandemi"