Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Fakih Produsen dan Fakih Konsumen; 2 Model Ahli Fikih Menurut KH. Afifuddin Muhajir

 

Dalam tradisi Fikih, ahli yang memahami segala hal yang berkaitan dengan huku-hukum fikih disebut dengan seorang yang fakih. Menurut KH. Afifuddin Muhajir, fakih di era saat ini dibagi 2 yakni ada yang fakih produsen dan ada yang fakih konsumen. Istilah ini dilontarkan pakar metodologi fatwa tersebut di acara Annual Conference on Fatwa Studies yang diadakan oleh Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 26 hingga 28 Juli 2021 melalui aplikasi Zoom.

Fakih produsen adalah seorang ahli fikih yang memahami hukum-hukum fikih serta perangkat metodologis yang bermuara pada reproduksi hukum. Mereka ini memiliki pemahaman yang mendalam tentang Ushul Fikih. Adapun yang kedua adalah model fakih konsumen, yakni model ahli hukum fikih yang pemahaman fikihnya hanya bersumber dari data-data hukum yang telah banyak tersimpan dalam kitab-kitab para ulama.

Bisa dikatakan, tipe fakih konsumen adalah orang yang banyak menguasai kitab-kitab klasik yang berisi fatwa-fatwa ulama. Artinya, kasus-kasus yang terjadi saat ini dicocokkan dengan kasus yang terjadi pada masa silam dengan membaca literasi kitab tertentu yang memiliki kesamaan dengan kasus saat ini.

Konsekuensi dari dua model ahli fikih ini adalah dari durasi kecepatan fatwa yang dikeluarkan. Para fakih konsumen biasanya lebih cepat mengeluarkan hukum karena bermodal pencocokan dengan apa yang tertulis di kitab-kitab yang terkait. Sedadngkan fakih produsen biasanya membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk menelurkan suatu produk hukum.

KH. Afifuddin menilai bahwa para ustaz di media sosial saat ini rata-rata tipe fakih konsumen. Oleh karena itu wajar jika keputusan hukumnya cendrung instan, tanpa pertimbangan, dan segala persoalan diajawab. Berbeda dengan fakih produsen yang banyak pertimbangan, mengkaji secara detil landasan hukumnya, dan tidak semua persoalan dijawab. 


Post a Comment for "Fakih Produsen dan Fakih Konsumen; 2 Model Ahli Fikih Menurut KH. Afifuddin Muhajir"