Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Linguistik Transformatif

Daftar Isi:
  1. Pengertian Teori Transformatif
  2. Dua Syarat Tata Bahasa
  3. Kemampuan dan Perbuatan Bahasa
  4. Teori Standar (Standard Theory)
  5. Subkomponen Sintaksis: Dasar dan Transformasi
    1. Pengertian Teori Transformatif

      Teori Transformatif atau Aliran Transformasional merupakan teori yang lahir dari tanggapan kritis terhadap teori tradisional dan struktural. Sebagaimana diketahui, teori tradisional merupakan model teori bahasa yang menekankan pada aspek fenomena bahasa yang sering kali terikat pada hal-hal diluar tuturan. Pada masa selanjutnya konsep tersebut dianggap terlalu menjauh dari sifat objektif bahasa sehingga lahirlah teori struktural yang berupaya untuk menghadirkan fenomena bahasa lebih objektif dan terikat dalam proses berbahasa itu sendiri.

      Dapat dikatakan tata bahasa transformasi lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure pada tahun 1957, yang kemudian diperkembangkan karena adanya kritik dan saran dari berbagai pihak, di dalam buku Chomsky yang kedua yang berjudul Aspect of the Theory of Syntax pada tahun 1965. Nama yang dikembangkan untuk model tata bahasa tersebut adalah Transformational Generative Grammar; tetapi dalam bahasa Indonesia lazim disebut ‘tata bahasa transformasi’ atau ‘tata bahasa generatif’.

      Menurut Chomsky, salah satu tujuan dari penelitian bahasa adalah menyusun tata bahasa dari bahasa tersebut. Bahasa dapat dianggap sebagai kumpulan kalimat yang terdiri dari deretan bunyi yang mempunyai makna. Maka dengan demikian, tugas tata bahasa haruslah dapat menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaedah-kaedah yang tepat dan jelas.

      Dua syarat tata bahasa

      Setiap tata bahasa dari suatu bahasa, menurut Chomsky adalah terori dari bahasa itu sendiri, dan tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat, yaitu:

      Pertama, kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa itu harus dapat diterima oleh pemakai bahasa tersebut, sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.

      Kedua, tata bahasa tersebut harus berbentuk sedemikian rupa, sehingga satuan atau istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja, dan semuanya ini harus sejajar dengan teori linguistik tertentu.

      Kemampuan dan Perbuatan Bahasa

      Sejalan dengan konsep langue dan parole dari de Saussure, maka Chomsky membedakan adanya kemampuan (Competence) dan perbuatan bahasa (Performance). Kemampuan adalah pengetahuan yang dimiliki pemakai bahasa mengenai bahasanya, sedangkan perbuatan berbahasa adalah pemakaian bahasa itu sendiri dalam keadaan yang sebenarnya. Dalam tata bahasa generatif ini, maka yang menjadi objeknya adalah ‘kemampuan’ tersebut, meskipun perbuatan bahasa juga penting.

      Hal yang pelu dan menarik bagi seorang peneliti bahasa adalah sistem kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa untuk mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, yang sebagian besar, barangkali belum pernah dilihat ataupun didengar.

      Pada dasarnya saat kita mengucapkan suatu kalimat, kita telah membuat kalimat baru yang berbeda dari sekian bentuk kalimat yang pernah kita ucapkan atau tuliskan. Kemampuan membuat kalimat-kalimat baru ini disebut aspek ‘kreatif bahasa’.

      Dengan kata lain menurut aliran ini, sebuah tata bahasa hendaknya terdiri dari sekelompok kaidah yang tertentu jumlahnya, tetapi dapat menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Hal ini dapat kita umapamakan dengan kemampuan mengalikan bilangan. Setiap orang yang telah menguasai perkalian 0-9, tentu akan dapat mengalikan perkalian lain, misalnya 23x46, atau 135x4568. Kemampuan untuk mendapatkan jawaban yang benar dalam perkalian tersebut bukanlah karena dia pernah melihat atau mendengar pun menghafal jawabannya, tetapi karena dia telah menghafal atau menguasai kaidah dasarnya.

      Teori Standar

      (Standard Theory)

      Konsep teori linguistik diatas yang selanjutnya disebut teori transformasi klasik, nampaknya belum memuaskan banyak kalangan pemikir linguistik. Oleh karena itu setelah diberikan banyak kritik dan masukan, teori itu disempurnakan oleh Chomsky pada tahun 1965 melalui buku berjudul Aspect of the Theory of Syntax. Dalam buku ini dikemukakan teori mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan yang prinsipil. Teori dalam buku tersebut dikenal dengan nama teori standar ‘standard Theory’.

      Teori standar menyebutkan bahwa tata bahasa dari setiap bahasa terdiri dari 3 komponen yaitu: komponen sintaksis, komponen semantik, dan komponen fonologis. Ketiga komponen ini saling terikat dalam membentuk makna.

      Subkomponen Sintaksis: Dasar dan Transformasi

      Komponen sintaksis dibagi dalam dua subkomponen yaitu: subkomponen dasar, dan sub komponen transformasi. Dalam subkomponen dasar berlangsung proses penyusunan bahasa secara gramatikal yang mencakup kelas kategorisasi kata, pencabangan makna, dan diksi (kosakata). Susunan sintaksis tersebut kemudian akan mengalami transformasi saat dituturkan (aspek fonologis) yang dipengaruhi oleh struktur pemaknaan logis. (perhatikan gambar tabel)

      Disinilah inti dari teori transformasi yaitu mengubah struktur batin yang ada dalam bahasa menjadi struktur lahir yang ditangkap dalam tuturan.

      Tidak sama dengan tata bahasa strukturalis yang berusaha mendeskripsikan ciri-ciri bahasa tertentu, maka tata bahasa transformasi berusaha mendeskripsikan ciri-ciri kesemestaan bahasa. Namun karena pada mulanya teori tata bahasa ini dipakai untuk mendeskripsikan kaidah-kaidah bahasa Inggris, maka kemudian ketika para pengikut teori ini mencoba untuk menggunakannya dalam bahasa-bahasa lain, timbullah berbagai masalah.

      Apa yang tadinya dianggap sebagai kaidah universal ternyata tidak universal. Oleh karena itu usaha-usaha perbaikan telah dilakukan oleh para bekas murid atau bekas pengikut aliran ini. Umpanya yang dilakukan oleh kaum semantik generatif, aliran tata bahasa kasus, dan aliran tata bahasa relasional.  

      Sumber: Lingustik Umum, karya: Abdul Chaer, (2012)

Post a Comment for "Teori Linguistik Transformatif "