Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengantar Ilmu Balagoh (Terjemah dari Kitab Taisirul Balaghah Ahmad Al-Qolasy)

 

Daftar Isi
  1. Pengertian Kalimat Baligh
  2. Tiga Bagian Ilmu Balagah
  3. Ilmu Ma'any
  4. Ilmu Bayan
  5. Ilmu Badi'

Balaghah secara bahasa berarti al-wushul wal al-intiha’ “sampai dan selesai”. Seorang pembicara yang lemah dalam menyampaikan pernyataan dengan mengulang-ulang sebuah tuturan untuk meberikan pengaruh yang keras terhadap pendegar, maka hal tersebut tidak termasuk ucapan yang balig.

Pengertian Kalimat Baligh

Kalimat yang balig adalah kalimat yang fasih, kuat secara makna, mengandung unsur seni, memberikan pengaruh yang memuaskan terhadap lawan bicara.

Apabila anda mengajak kepada kebaikan atau maslahat, maka engkau membaca firman Allah: “Engkau memberikan maaf, hal itu lebih dekat dengan ketakwaan” (al-Baqarah: 237). dan firman Allah pula: “dan kemaslahatan itu baik.” (An-Nisa: 128). Ketika anda bisa melakukan hal itu maka anda adalah seorang hakim yang balig (tuturannya baik). Adapun jika anda membaca ayat: “Dan di dalam hukum qishosh itu ada kehidupan bagi kalian” (Al-Baqarah: 179), maka engkau belum menjadi seorang yang balig, karena engkau belum memahami situasi objek yang diajak berbicara.

Apabila seorang profesor berkata kepada istrinya yang awam: ناوليني المزبر من القمطر “berikan aku debu dari hujan” yang bermaksud bahwa sang profesor menginginkan untuk diambilkan pena dari dalam tas, maka pernyataan tersebut belum termasuk kalimat yang balig meskipun secara tuturan fasih. Hal itu karena dia tidak memahami tingkatan atau kemampuan istrinya (dalam memahami bahasa).

Dapat dikatakan Ilmu Balaghoh merupakan ilmu yang menyesuaikan takaran tuturan baik dengan konteks, lawan bicara, maupun gaya bahasa.

Tiga Bagian Ilmu Balagah

Ilmu Ma'any

Pengertian Ilmu Ma’any adalah ilmu untuk mengetahui apakah suatu tuturan sesuai dengan konteks tuturan atau tidak. Misalnya, keadaan lawan bicara yang pintar cukup dengan pernyataan yang ringkas, sementara keadaan lawan bicara yang kurang pintar menuntut penjelasan yang lebih panjang. Sebagaimana dikatakan: “Berbicara dengan orang pandai cukup dengan isyarat tertentu (kode), dan dengan yang lainnya dibutuhkan nada yang tinggi.”  

Telah berkata Al-Kindi kepada Almubarrad: “Sesungguhnya aku menjumpai dalam bahasa Arab itu hasywan (kesia-siaan)” maka Almubarrad mengatakan: “mana itu?” Alkindi menjawab: saya mendapatkan orang-orang Arab itu mengatakan: “عبد الله قائم “, kemudian mereka mengatakan: “إن عبد الله قائم” , kemudian mereka juga mengatakan: “"إن عبد الله لقائم. lihatlah banyak sekali pernyataannya padahal maknanya satu. Maka dijawab oleh Almubarrad: Oh jangan salah, justru maknanya juga banyak itu!

Makna pertama adalah: mengabarkan tentang keadaan berdiri, yang kedua adalah jawab dari orang yang bertanya tentang posisi Abdullah dari contoh itu, dan yang ketiga adalah jawaban yang menolak orang yang tidak percaya perihal kabar “Abdullah berdiri”. Dengan alasan ini maka berbeda-bedanya lafaz menunjukkan kepada berbeda-bedanya makna. Mendengar jawaban Almubarrad, Alkindi kemudian terdiam.

Maka apabila kita menginginkan suatu tuturan sampai dengan maknanya yang asli (yang kita maksud), maka kita meringkas atau menyederhanakan ungkapan ketika berbicara dengan orang pintar dan kita akan memperpanjang (mengurai lebih jauh) suatu tuturan jika berbicara dengan orang yang kurang pintar. Ketika kita sudah bisa melakukan itu, maka kita sudah menguasai Ilmu Ma’any.

Bisa dianalogikan bahwa Ilmu Ma’any itu seperti seorang tukang jahit yang melihat ukuran tubuh seseorang yang akan mengenakan pakaian itu dulu sebelum menjahit pakaiannya, kemudian dari ukuran tersebut dia memotong dan menjahit pakaian menurut ukurannya. Demikian pula dalam hal arsitektur, seorang arsitek harus mengukur dan menggambar dulu model suatu bangunan sebelum mengeksekusinya. Karena alasan itulah Ilmu Ma’any didahulukan pembahasannya dibandingkan dengan dua cabang Ilmu Balaghoh lainnya.

Ilmu Bayan

Pengertian Ilmu Bayan adalah ilmu yang membahas tentang bentuk lafaz dari sisi penjelasannya untuk makna-makna yang dikehendaki. Apakah itu berbentuk shigot haqiqotul mujarrodah (kalimat utuh), tasbih, majaz, atau kinayah. Sebagaimana kita melihat bentuk jahitan maka kita tau jenisnya apakah itu baju, jubah, jaket atau mantel.

Ilmu Badi'

Pengertian Ilmu Badi’ adalah ilmu yang membahas tentang suatu tuturan yang merujuk kepada bentuk tahsinul lafzi (keindahan lafaz), dan tazyin-nya (hiasannya), seperti kita meletakkan kancing baju, bunga, motif untuk menghiasi suatu pakaian pengantin setelah sempurna jahitannya. Juga seperti kita mengecat tembok setelah sempurna suatu bangunan dibentuk. Oleh karena itu Ilmu Badi’ dibahas paling akhir.    

  

Post a Comment for "Pengantar Ilmu Balagoh (Terjemah dari Kitab Taisirul Balaghah Ahmad Al-Qolasy)"