Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

NW dalam Simpang Kabut Sejarah

Tarik menarik Nahdlatul Wathan (NW) kembali mengemuka sejak mencuatnya dokumen Surat Keputusan (SK) yang menyebutkan legalitas salah satu dari dua organisasi yang telah terbelah sejak berpuluh tahun yang lalu. NW Pancor dan NW Anjani kembali digiring ke arena duel perdebatan yang menguras emosi dan waktu. Adu sejarah, validitas data, serta egoisme masing-masing kembali dirasakan setelah sekian purnama tak menjadi soal. Kedua kubu tersebut seolah dilemparkan kembali pada tingkungan sejarah yang misterius itu.

Pihak Anjani berbesar dada karena hak konstitusional yang ternyata berpihak kepada mereka. Pihak Pancor tak jua mau ketinggalan, mereka mengemukakan berbagai data dan fakta untuk menunjukkan asas kekuatan. Perdebatan itu terus mengisi ruang media beberapa waktu ini yang sayangnya dalam beberapa hal lebih terlihat sebagai adu psikologis dari pada bahasan ilmiah yang bersifat dialogis.

Saya pikir NW seharusnya pada usianya yang sudah tak lagi muda lebih bijaksana dan lebih dewasa dalam berpikir. Seharusnya dialog telah menjadi karakter yang melekat untuk membangun komunikasi yang sehat untuk kemajuan Nahdlatul Wathan. Jika perdebatan masih hanya tentang adu kekuatan perihal yang benar dan yang salah, selamanya, NW tidak akan pernah menemukan puncaknya! Eksistensinya hanyalah sekumpulan pebukitan yang ramai namun pendek.

Pendiri NW, TGKH. Zainuddin Abdul Majid, sebenarnya telah mencontohkan cara berdialog dalam jaring-jaring konflik. Bagaimana Zainuddin Abdul Majid awalnya seorang NU, kemudian perlahan melahirkan NW tentulah menggunakan mekanisme dialog yang elegan. NW berdiri tanpa harus menyakiti NU. Sejarah ini seharusnya bukanlah semata informasi yang direkam tapi bahan refleksi yang mengakar. Sayangnya kebanyakan kita hanya menjadikan sejarah sebagai dalil untuk saling memperebutkan kebenaran. Menghukum yang benar dan yang salah.

Dialog, sebagaimana yang dipahmi dalam berbagai literasi memiliki asas saling memahami bukan saling mengklaim kebenaran diri. Dialog tak bertujuan menentukan pemenang, hanya bertujuan memahamkan suatu hal secara bersama-sama dan bijaksana. Inilah seharusnya model komunikasi yang dikembangkan oleh Nahdlatul Wathan yang sejatinya jika melihat kader-kader terdidiknya tak perlu kesulitan melakukannya.

Dualisme NW memang diakui bukanlah hal yang sederhana. Di dalamnya tertanam banyak konflik, luka, kenangan, hingga darah. Maka tentu menghapus dualisme bukanlah pekerjaan mudah. Rasa-rasanya saat mengikuti perdebatan netizen dari kalangan NW Pancor mapun NW Anjani, sulit untuk menemukan simpul persatuan, apalagi jika golongan tua juga ikut terlibat dalam perdebatan. Sebenarnya kita berharap dari golongan tua tidak ikut-ikutan menghembuskan angin permusuhan yang justru akan semakin membakar runcing konflik yang telah membara itu.

Organisasi Nahdlatul Wathan sejatinya telah ditopang oleh banyak pemikir yang inklusif dalam proses maupun hasil olah pikirnya, bahkan banyak dari kalangan kader NW yang sudah menduduki tahapan tertinggi dunia akademik. Guru besar- guru besar yang dimiliki tersebar di berbagai bidang dan di berbagai kampus. Ini sejatinya adalah kekuatan untuk membangun peradaban Nadlatul Wathan. Namun sungguh sayang, kader brliian yang dimiliki sering kali masih terpenjara dalam kubu tertentu sehingga sulit menampakkan perannya pada dunia yang lebih luas.

Kita tentu menanti saat organisasi besar NW berjejer dengan organisasi sekelas NU dan Muhammadiyah yang lingkup pemikir dan perannya telah menasional bahkan mendunia. Kita sungguh-sungguh berharap kader NW mengisi dialektika keilmuan yang sejauh ini masih didominasi oleh NU dan Muhammadiyah. Kapan kiranya kampus-kampus Nadlatul Wathan memiliki kualitas yang sejajar dengan kampus-kampus di bawah dua organisasi keislaman itu? Setidaknya dalam hal dialektika keilmuan Islam secara nasional.

Semua mimpi besar yang kita harapkan dari Nahdlatul Wathan nampaknya masih jauh panggang dari api. Harapan-harapan itu masih dihadang egoisme kelompok yang menjaring asa untuk selalu bertengkar dalam tempurung dualisme. Memang Benar keluhan Syafi’i Ma’arif, bahwa Islam ini sulit maju karena kotak-kotak yang terlalu banyak, mereka saling tarik menarik dan tak kunjung menunjukkan kemajuan.

Mencuatnya kembali perdebatan tentang pemilik sesungguhnya NW adalah ibarat termakan ular dalam permainan ular tangga. Kita kembali dibawa pada garis yang lebih jauh dari finish, akhirnya kita menguras emosi, memperdebatkan ulang sejarah yang penuh kabut itu. Dan korbannya adalah roda organisasi, para santri yang masih tak tau apa-apa, para jamaah yang rindu pendidikan agama, serta para pendamba kemajuan yang hanya bisa terdiam melihat itu semua. Kapankah kita selesai dari perdebatan ini?

Bentang sejarah yang telah jauh itu tak mungkin kita kembali lagi kepadanya meraba-raba jalur yang penuh kabut di dalamnya. Ibarat gunung yang penuh kabut, sejarah NW saat masa awal setelah meinggalnya sang pemimpin adalah simpang kabut sejarah yang terlalu rumit untuk disibak. Dan hari ini saat perdebatan tentang hal itu muncul kembali, sudah jelas ini hanya tentang menguras energi yang tak berdampak apa-apa untuk agama, negara, bahkan organisasi NW itu sendiri. Allahu A’lam.    

2 comments for "NW dalam Simpang Kabut Sejarah"

  1. Semoga NW terus kompak, utuh, bersatu. Terus hidup sampai hari kiamat.. Amiin.

    ReplyDelete