Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kasus Sabyan dan Bahayanya Kemarahan Perempuan

 

Setidaknya sejak 2018, tak ada yang tak mengenal lagu ‘hhmmmm’ miliknya Sabyan. Lagu yang sangat populer itu dibawakan oleh seorang perempuan bernama Khoirunnisa yang kemudain lebih dikenal sebagai Nisa Sabyan. Belakangan nama Nisa menjadi tranding di berbagai kanal media sosial, kali ini bukan karena lagunya, tapi karena isu perselingkuhannya. Banyak orang yang kemudian menghujat pemilik suara merdu nan indah itu. Rerata kaum yang paling tersakiti dari kasus tersebut adalah kaum perempuan.

Mengapa kaum perempuan begitu cepat responsif bahkan dengan sangat atraktif melakukan serangan-serangan di berbagai sudut media? Banyak orang kemudian mengambil sikap untuk menghujat perempuan tersebut, melalui tindakan-tindakan verbal maupun tulisan di akun media sosial mereka. Tetapi disaat yang sama, banyak juga orang yang membeli si mungil yang ayu itu alasannya: dia difitnah!, banyak orang yang mau karirnya meredup!, dan lain sebagainya.

Menarik melihat pergolakan isu perselingkuhan yang telah memframing Nisa Sabyan sebagai seorang pelakor. Sebagian besar orang yang menghujat tindakan Nisa adalah para perempuan yang sudah berpasangan, ini menunjukkan bahwa setiap perempuan memiliki garis psikologis yang sama dengan seluruh jenis perempuan di dunia ini. Gelombang bully, protes, hinaan kemudian memenuhi jagat media belakangan ini. Kebanyakan memiliki esensi menolak tindakan Ayus dan Nisa.

Isu ini, sesungguhnya cukup berbahaya bagi roda keberlangsungan grup musik Sabyan Gambus. Di tengah ketatnya persaingan indusitri musik tanah air, isu ini harus segera diklarifikasi oleh pihak Sabyan. Namun demikian, nampaknya luka psikologi perempuan yang secara serentak menggaris urat nadi kaum perempuan di negeri ini tidak cukup mudah untuk diselesaikan hanya dengan upaya klarifikasi. Ibarat nasi telah membubur, ada konsekuensi logis dari tindakan tidak logis Ayus dan Sabyan, yang atas nama cinta telah pasrah untuk mengubur grup musik yang telah membesarkan nama mereka itu.

Perempuan memang unik. Dalam trdisi Linguistik Arab, bentuk mufrad (kata tunggal) untuk perempuan diakhiri dengan ta’ marbutoh (ta’ yang tertutup), tetapi ketika menjadi bentuk jama (kata jamak), maka bentuknya menggunakan ta’ ta’nits (ta’ yang terbuka). Ini menunjukkan bahwa perempuan saat bersama cendrung lebih berani untuk menunjukkan sikap dan prilakunya. Sejalan dengan hal ini dalam teori solidaritas juga diungkapkan, sebagaimana Doyle Paul (1994), bahwa solidaritas muncul salah satunya adalah karena adanya pengalaman emosional bersama. Adanya gelombang protes perempuan secara massif di media sosial telah menunjukkan solidaritas kaum perempuan.

Secara psikologis perempuan memiliki kecendrungan untuk merasakan secara total luka psikologis yang dialami oleh sesama jenis mereka. Oleh karena itu, ketika perselingkuhan Ayus dan Nisa yang telah melahirkan keteraniayaan istri sah Ayus, maka kaum perempuan dengan besar-besaran dan massif melontarkan protes dan penolakan mereka. Bentuk penolakan itu berbagai macam, ada yang melalui ekspresi meme, ada dengan status, ada dengan artikel, ada juga dengan tindakan tidak mau mendengar lagu Sabyan lagi.

Nah, dampak terakhir ini meski tidak langsung menghujam ke Nisa, tapi cukup berbahaya  untuk eksistensi grup musik tersebut. Ada ancaman meredupnya Sabyan di masa depan karena gelombang tsunami kemarahan kaum perempuan. Akhirnya, saat kasus perselingkuhan ini tak kunjung dikendalikan dan dicarikan solusi maka grup musik inilah yang akan menjadi korban.

Kemarahan perempuan memang berbahaya, di masa lalu banyak hal-hal besar terjadi karena kemarahan kaum perempuan, meredupnya popularitas AA Gym, Ahmad Dhani, dan lainnya adalah sekian bentuk bagaimana kemarahan netizen perempuan mampu menggilas roda popularitas yang bahkan telah melangit itu.  

Luka psikologis perempuan se-Indonesia saat ini mungkin tengah perih-perihnya, teriakan tidak suka terhadap sosok polos Nisa Sabyan semakin menggema. Saat teriakan-teriakan itu semakin memenuhi jagad media, saat itulah lagu-lagu religi Sabyan tak akan laku lagi, sholawat-sholawat yang didendang tak akan semerdu dulu lagi, serta pelanggan-pelanggan kanal Youtube yang pastinya telah siap meninggalkan arena panggung Sabyan. Semoga cinta tak sekejam ini melukai banyak orang, bahkan hingga para pecintanya sekalipun. Oleh karena itu, luka psikologis kaum perempuan ini harus segera dicarikan obatnya!

Post a Comment for "Kasus Sabyan dan Bahayanya Kemarahan Perempuan"