Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dahsyatnya Dosa Pelakor Mengalahkan Dosa Koruptor

  

Entah berapa banyak orang-orang yang telah tersingkir dari panggung popularitas hanya karena persoalan dosa bernama pencuri pasangan orang. Mulan Jameela, adalah diantara nama yang cukup populer untuk mewakili contoh itu. Nisa Sabyan untuk contoh terbaru.

Ada apa sejatinya dengan masyarakat kita, saat kasus perselingkuhan Nisa dan Ayus mencuat di media, banyak orang-orang kemudian tampil sebagai orang suci, menghakimi dengan semau hati, meninggalkan jejak-jejak digital yang diafirmasi. Masyarakat kita seolah latah, terutama jika itu berkaitan dengan isu seksual. Kasus pelakor ini menjadi misal.

Anehnya, kasus pelakor sering kali terlihat sebagai kasus maha dahsyat dibandingkan dosa sosial apapun di negeri ini. Kita lihat para pelakor mendapat hukuman sosial yang tak terukur perihnya. Bayangkan, dalam beberapa hari ini rerata akun-akun media sosial beramai-ramai membicarakan Nisa, dan tentunya dengan nada sinis nan menghina. Hal yang sama tidak kita temukan dalam kasus-kasus lain yang sebenarnya jauh lebih pelik dari hanya sebuah masalah ranjang!

Shereen El-Feki pernah mengatakan, “Jika anda benar-benar ingin mengenal sebuah bangsa, mulailah dengan melihat apa yang terjadi di dalam kamar tidur mereka.” Apa yang dikatakan Shereen nampaknya berdasar pada konsep seksualitas seorang pemikir besar bernama Michel Foucault. Seksualitas menurut Foucault adalah titik transfer yang sangat padat bagi pelbagai relasi kuasa: penguasa dengan rakyat, bos dengan karyawan, tokoh agama dengan masyarakat awam, dan hubungan lelaki dengan perempuan.

Persoalan ranjang memang begitu mengasyikkan di negeri ini. Vitalitasnya mengalahkan persoalan apapun yang itu mungkin lebih penting diperhatikan. Lihat saja, saat isu perselingkuhan grup musik Gambus itu mencuat, isu-isu penting lain seperti banjir, korupsi, krisis lahan, pudar dalam riuk emosi para warganet yang hadir memberikan tanggapan seputar isu ranjang itu. Mereka hadir sebagai solidaritas untuk mendukung secara moril istri sah Ayus yang dianggap dizolimi.

Disaat yang sama, Nisa menjadi bulan-bulanan karena dianggap seolah sebagai pendosa besar yang hanya menebar citra (islami), namun menjerat cinta. Nisa diperlakukan lebih sadis bahkan dari pada koruptor yang menilap uang rakyat bertriliun sekalipun. Tapi demikianlah realitas cinta di negeri ini, dia seperti pada umumnya di dunia, tak mengenal batas logika! apapun kesalahan yang telah merusak cinta dianggap sebagai kesalahan  besar yang pantas untuk dihakimi seadil-adilnya.

Jika diukur secara logika, kesalahan Nisa dan para koruptor tentu sangat jauh berbeda. Nisa hanya mencuri jatah satu orang, sementara koruptor mencuri jatah jutaan orang. Ehh? Namun hukuman yang dialami Nisa secara sosial nampaknya jauh lebih dahsyat dari hukuman yang dihadapi koruptor. Apakah ini adil? Sepertinya konsep solidaritas memang lebih berlaku secara purna pada identitas perempuan. Sebagaimana dalam teori sosial solidaritas akan terwujud tatakala ada hubungan pengalaman psikologis yang sama. Para warganet yang melakukan pembelaan kepada istri sah Ayus mungkin memiliki pengalaman yang sama di masa lampau.

Kembali pada hipotesis Elfeki, melihat realitas bangsa ini melalui fenomena ranjang rakyatnya, sepertinya bangsa kita adalah bangsa yang membela mati-matian ketika hak seksualitasnya direbut. Hal yang sama tidak akan terjadi tatakala hak-hak lainnya disikut, tanah dan bansos misalnya! Apakah ini ukuran bangsa kita saat ini?

Mengukur kualitas bagsa melalui fenoemna ranjang memang tidak semudah mengukur pencapaian pemerintahan Jokowi dengan data statistik yang instan. Di dalamnya ada berbagai hal kompleks yang tak mudah diutarakan. Setiap wajah pasti memiliki persoalan ranjang yang secara psikologis mustahil mau diumbar. Namun saat satu isu selangkangan menebar, mereka para penyembunyi masalah ranjang unjuk gigi paling depan mengutarakan komentar. Demikian memang manusia Indonesia, seperti dikatakan Muchtar Lubis, terlampau hipokrit saat berhadapan dengan orang lain.

Persoalan seksual adalah persoalan manusia yang sangat terpendam. Tersembunyi dan tabu untuk dibicarakan. Tidak ada seorangpun yang tak mengalami masalah tersebut, tetapi di era media saat ini, setiap orang yang terjebur pada kasus tersebut ditertawakan, dianggap sebagai hiburan, mungkin juga kehinaan. Pun demikian juga dengan kasus Sabyan, kini mereka seolah terjebur, semua tertawa, dan riuh dalam argumentasi penghinaan. Akhirnnya pelakor memang layak mendapati siksaan dari para warganet melalui caci maki jari-jari. Begitulah dahsyatnya dosa pelakor, bahkan mengalahkan dosa koruptor!    

Post a Comment for "Dahsyatnya Dosa Pelakor Mengalahkan Dosa Koruptor"