Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Belajar dari Muhammadiyah dan NU, NW Harus Bergandengan Tangan!

 

Beberapa hari yang lalu, Buya Syafi’i Maarif menulis opini di Kompas berjudul Pesan untuk Muhammadiyah dan NU. Setidaknya ada dua pesan utama yang bisa saya refleksikan. Pertama, Muhammadiyah dan NU sebagai representasi Islam di Indonesia perlu untuk terus dikemukakan untuk meredam berbagai doktrin trans-nasional yang membahayakan. Kedua, dalam hal isu kebangsaan, Muhammadiyah dan NU perlu untuk terus bergandengan tangan untuk mewujudkan tatanan kehidupan beragama dan berbangsa yang stabil.

Pada prinsipnya, pesan Syafii Maarif menekankan pada pentingnya dialog antara Muhammadiyah dan NU dalam konteks bernegara dan beragama untuk mewujudkan stabilitas keagamaan maupun kebangsaan. Tulisan itu awalnya merupakan ulasan Buya tentang lukisan karya Joko Susilo yang menggambar dirinya dan tokoh NU Mustafa Bisri yang sedang bersama. Dirinya menerjemahkan lukisan tersebut sebagai harapan untuk masa depan yakni harapan tentang NU dan Muhammadiyah agar senantiasa bergandengan tangan.

Saya pribadi sangat kagum dengan model komunikasi yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh besar kedua organisasi terbesar itu. Mereka tak hentinya menyuarakan persatuan, bahkan di tengah realitas perbedaan yang ada. NU dan Muhammadiyah tentulah secara praktik keagamaan menunjukkan banyak perbedaan, tetapi hebatnya mereka tetap bersama-sama mengawal Islam Indonesia yang ramah. Mereka senantiasa konsisten dalam membangun masyarakat beragama dan bernegara di negeri mayoritas muslim ini.

Sejenak, setelah selesai menelaah tulisan Buya itu, pikiran saya tertuju pada Nahdlatul Wathan, organisasi keislaman terbesar di Nusa Tenggara barat. NW seharusnya sudah berada dalam garis orbit yang sama dengan Muhammadiyah dan NU untuk saling berunjuk peran. Tapi fakta sejarah menunjukkan bahwa suara NW masih redup di perbincangan nasional. Meski sejenak terdengar, perlahan segera hilang kembali, dan akan muncul di musim-musim tertentu, musim politik misalnya!

Saat NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi terbesar di negeri ini sudah selesai dengan masalah di tubuh mereka sendiri, dan sudah bermil jauhnya laju mereka dalam mengabdi, NW sepertinya masih berjalan di tempat. Organisasi besar itu masih belum selesai dengan dirinya, masalah dualisme, hingga konflik sekterian yang masih mengekang roda organisasinya di tempat kelahirannya (Lombok).

Masih segar dalam ingatan, proses pedebatan tantang PBNW yang sah, juga tentang nama bandara yang terus-terusan dikeluh-kesah. Saya pikir NW seharusnya sudah tidak perlu menguras energi untuk problem yang telah menahun itu. Seharusnya NW membuka ruang paradigmanya hingga menyapu cakrawala nusantara, bukan terkungkung di tempurung kesukuan yang tak bermanfaat itu.

Pada dasarnya, secara teoritis, NW sudah sangat layak bersanding secara nasional bahkan internasional dengan dua organisasi besar Muhammadiyah dan NU, tokoh besar pendiri NW adalah tokoh yang tak diragukan lagi kemampuannya baik secara intelektual maupun semangat kenegaraan. Tapi sikap sebagian orang yang masih suka berselimut dalam kesukuan dan kepanatikan membuat laju NW cendrung tersengal, terseok, dan kadang mogok. Persoalan dualisme saya rasa sudah tak layak didiskusikan dalam konteks negasi yang sifatnya temporal, dualisme harusnya dilihat dalam kacamata positivitas yang membentangkan harapan untuk bersama menyongsong kemajuan.

Kemudian tentang sengkarut penamaan Bandara Internasional Lombok yang kebetulan melibatkan organiasi besar Nahdlatul Wathan, sikap tenang para warga NW patut diapresiasi, tetapi membiarkan persoalan tersebut tumbuh bebas juga merupakan hal yang kontra-produktif dengan roda NW itu sendiri. Saya berharap para kader intelektual maupun sosial organisasi ini membuka kran dialog dengan mereka yang masih berseberangan.

Kita berharap Nahdlatul Wathan tidak hanya bergema di langit NTB, tetapi juga bersuara lantang di arus polemik nasional bahkan internasional. Hal ini tentunya akan bisa dilakukan saat NW tidak lagi terjebak dalam konflik internal yang berlarut juga jebakan sektarian yang masih kental dalam konstruksi sosial masyarakat Lombok. Salah satu kunci yang bisa digunakan adalah menangkap pesan yang disampaikan Buya Syafii Maarif, yakni hendaknya bergandengan tangan!

Sumber gambar: www.nwonline.id


Post a Comment for "Belajar dari Muhammadiyah dan NU, NW Harus Bergandengan Tangan!"