Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Semiotika Gusdur

 

Gus Dur memang telah redup, tetapi ide, pemikiran, inspirasi dan kenangannya masih terus hidup. Narasi tentang Gus Dur masih terus eksis hingga hari ini, bahkan mungkin akan lebih luas di masa yang akan datang. Setidaknya 3 hal yang membuat Gus Dur terus hidup: pemikirannya, kepemimpinannya, dan organisasinya.

Pemikiran Gus Dur unik. Fuad Jabali menceritakan bahwa dirinya pernah mendapatkan undangan ke Amerika untuk mepresentasikan pemikiran Gus Dur. Satu hal penting dari konsep yang disampaikan Fuad Jabali adalah Gus Dur orang tradisional dengan pemikiran radikal. Dia orang pesantren dengan pemikiran modern. Dia produk lokal dengan kualitas internasional.

Fuad Jabali tentu tidak sendirian, telah begitu banyak sarjana, magister, doktor bahkan mungkin profesor yang sampai pada tahapan-tahapan akademiknya hanya karena mengkaji sosok Gus Dur. Gus Dur dengan demikian menjadi tonggak penting lahirnya para ahli keilmuan. Keunikan pemikiran Gus Dur selanjutnya membuat namanya terkenal dimana-mana, bahkan pada dua kutub yang selalu berseberangan yakni Timur dan Barat. Iya, nama Gus Dur familiar di kedua belah aliran pemikiran tersebut. Inilah kehasan Gus Dur: berdiri di semua golongan!

Sepertinya, pemikiran Gus Dur yang lentur dan bisa masuk kemana saja juga termanifestasi dalam dirinya. Adalah fakta sejarah bahwa Gus Dur diterima di semua agama. Baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha, bahkan yang sempat disempalkan di negeri ini, agama Konghucu. Wal hasil Gus Dur adalah manusia lentur yang dimensinya merangkul seluruh sudut.

Kemenerimaan seluruh golongan atas Gus Dur sepertinya mendorong elektabilitasnya untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini. Dalam sejarah hidupnya sosok ini pernah menjadi presiden. Mungkin satu-satunya di dunia. Dengan segala keterbatasan fisiknya, dirinya mampu memimpin bangsa besar ini. Dan nilai yang diperoleh juga bisa dikatakan brilian.  

Kepemimpinan Gus Dur, juga sebagaimana orangnya, unik dan bagi sebagian kalangan kontroversial. Safari internasional Gus Dur yang mengunjungi banyak negara diantara kebijakannya yang menuai kontroversi. Sungguhpun begitu, di beberapa waktu terakhir dalam hidupnya, dirinya pernah mengklarifikasi hal tersebut kepada publik melalui wawanccara umum di salah satu program televisi. Selain itu banyak hal lain yang juga menjadi menarik dari kepemimpinan Gus Dur. Tentunya ruang tulisan ini sangat sempit untuk mengurainya. Pada prinsipnya kepemimpinan Gus Dur lebih menekankan pencegahan konflik-konflik besar yang mengancam. Seperti dikatakannya, “Mencegah api lebih baik dari mengerahkan beribu pemadam kebakaran.”

Gus Dur meninggal pada usia 69 tahun, dan dimakamkan di tanah kelahirannya Jombang. Hingga saat ini Gus Dur terus hidup dalam narasi pikir para Gus Durian, pada pecinta ilmu pengetahuan keislaman, pada pecinta NU sebagai organisasi terbesar. Pada para peziarah makamnya yang tak pernah sepi. Gus Dur telah menjelma tanda, suatu sistem tanda yang konmplek dan semakin canggih. Gus Dur, yang pada mulanya direferensikan sebagai tokoh NU, kemudian berubah menjadi Presiden, kemudian berubah menjadi guru bangsa. Kini ketika menyebut Gus Dur yang terbayang dalam narasi kita adalah lautan ilmu dan pengetahuan. Gus Dur adalah samudra, di dalamnya berbagai benih pikir, inspirasi, sejarah berjubel.

Hari ini, para pengkaji Gus Dur bukanlah semata seorang sejarawan, tetapi beragam: teolog, sosiolog, antropolog, linguis, sastrawan dan berbagai latar keilmuan lainnya. Meluasnya referensi semiotik tentang Gus Dur inilah yang mendorong penulis mengemukakan istilah Semiotika Gusdur. Yakni bidang kajian yang melihat tanda Gus Dur dalam sudut-sudut yang sangat luas. Tak terbendung, bahkan terkesan tak berujung. Gusdurian yang terus melakukan kajian-kajian seputar pemikiran Gus Dur, para pegiat keilmuan di Wahid Institut, serta orang-orang NU yang terus mentahlili dan menaqibi Gus Dur telah menyulam benang-benang pemikiran dan sejarah hidup Gus Dur dalam bangunan narasi yang sangat besar.   

 

Post a Comment for "Semiotika Gusdur"