Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jihad Tanpa Jahat

 


Kemanusiaan kita kembali diuji. Jiwa kita kembali diselimuti pilu. Tragedi di Sigi adalah pukulan telak untuk kemanusiaan kita. Ironisnya, agama masih saja dihadirkan sebagai kambing hitam bagi mereka yang mengaku beragama namun tidak bertindak berdasar nilai-nilia keagamaan yang sejatinya tak pernah mengajarkan kebiadaban.

Jihad, kembali menjadi istilah yang disalahgunakan oleh mereka yang minim referensi pengetahuan. Makna jihad dipersempit dalam asumsi-asumsi tekstual dan pengalaman sejarah yang rigid. Akhirnya jihad hadir dalam wajahnya yang menakutkan. Semuanya masih tentang darah. 

Mengapa jihad identik dengan darah? Pertanyaan ini tentunya bukan soal sederhana. Di dalamnya ada pergulatan identitas, pengetahuan, pemahaman, serta egoisme psikologis masing-masing orang. Celakanya, terminologi jihad yang disalahpahami ini telah melahirkan sikap nirkemanusiaan dengan konsekuensi yang tidak tanggung-tanggung: hilangnya nyawa!

Kita mungkin bisa saja berdebat tentang makna kata pada hal-hal yang lain, tetapi dalam terminologi jihad, perbedaan konseptual sangat berbahaya. Konsepsi yang dilahirkan sangat berbahaya dan merusak pola tingkah laku seseorang.

Secara historis, jihad dalam agama Islam memang tidak bisa dipungkiri banyak terkait dengan peperangan. Ini tentunya wajar karena situasi yang mengelilingi pada waktu itu. Sungguhpun demikian, jikalah kita mengkaji dalil jihad melalui sumber-sumber normatif dengan memadukan pembacacan sosiologis yang ada di baliknya (asbabun nuzul / asbabul wurud), maka akan ditemukan pemaknaan yang tidak terikat pada peristiwa sejarah yang lampau semata tetapi merupakan perpaduan dalil normatif dan historis yang akan melahirkan konsep yang lebih plural.

Nampaknya, sebagian golongan dari umat ini tidak mau menggunakan otaknya untuk menyukuri nikmat Tuhan mereka. Iya, anugerah terindah Tuhan berupa otak untuk berpikir tidak digunakan sebagai bentuk kesyukuran. Akhirnya, mereka hanya ingin dalil yang nampak secara tekstual, tidak mau repot dengan dalil-dalil lain yang sesungguhnya lebih jelas terbaca.

Kemanusiaan, sejatinya adalah salah satu dalil utama dalam beragama. Ini terlihat dari salah satu tujuan syariat agama kita adalah untuk menjaga jiwa (hifzun nafs). Oleh karena itu sangat ironis jika ada orang yang mengaku beragama namun menghalalkan segala cara untuk menjalankan syariat keagamaan mereka yakni dengan menghilangkan nyawa.

Apa yang dilakukan kelompok teroris di Sigi adalah bentuk pembengkokan makna jihad ke arah yang sangat patal. Nama Mujihidin Indonesia Timur (MIT) yang digunakan untuk memayungi aktivitas mereka adalah tanda yang menunjukkan betapa jihad masih diidentikkan dengan darah! Ini memilukan!

Jika kita melihat dalam beberapa referensi kamus, jihad secara etimologi berarti berjuang dengan sungguh. Pemaknaan jihad yang identik dengan perang sejatinya merujuk pada era pertama Islam lahir. Namun demikian dalam Islam, peperangan juga diatur. Ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Seperti tidak membunuh anak-anak dan perempuan, tidak membunuh tawanan, tidak merusak sumber air, tidak merusak pepohon, dan berbagai aturan lain, yang pada prinsipnya, bahkan dalam urusan berperang Islam masih memegang kemanusiaan!

Jika data historis tersebut sudah nampak jelas di hadapan dalil-dalil normatif kita, maka mengapa masih ada di sekiling kita orang-orang yang teriak jihad, lantas kemudian menjadi banal dan menjadi binatang kehausan darah? Ajaran mana yang mereka ikuti? Jihad seharusnya dilakukan tanpa tindakan yang jahat. Mengaku berjihad tetapi membunuh, menelor, menyakiti orang lain sejatinya tidak sedang berjihad. Mereka hanyalah gerombolan penjahat!

Jihad dalam konteks saat ini, sejatinya bisa didefinisi kembali. Belajar yang tekun, menjaga hubungan baik dengan orang lain, menjaga hak-hak kemanusiaan, bekerja untuk keluarga, menfkahi fakir miskin, membangun lembaga pendidikan, meluruskan pemahaman keagamaan yang radikal, adalah sekian dari bentuk jihad yang bisa dilakukan saat ini. Mari kita maknai kata jihad secara hakiki, tidak dengan kebencian dan tindakan tak berbudi. Jika makna jihad sudah kita sepakati dan amalkan sebagaimana diatas, maka barulah seruan ‘hayya ‘alal jihad’ kita kumandangkan dan lakukan bersama-sama.  

Diskusi ini sejatinya akan memerlukan waktu yang sangat panjang, namun kita perlu segera mengambil peran. Langkah sederhana yang bisa kita lakukan adalah mengedukasi masyarakat lebih gencar tentang kata-kata kunci beragama kita seperti jihad ini, agar tidak salah dipahami, tidak salah digunakan, dan tidak salah membunuh orang. Mari kita gunakan otak kita untuk berpikir dan menjadi manusia sesungguhnya. Yakni manusia yang tidak melupakan kemanusiaan di tengah keberagamaan.  

 

Post a Comment for "Jihad Tanpa Jahat"