Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Nahwu dan Filsafat Sosial

Dalam Ilmu Nahwu (Ilmu Gramatika Arab), kalam (kalimat) adalah sesuatu yang dilafalkan dan berfaedah (Ibnu Aqil). Apakah yang dimaksud dilafalkan dan berfaedah dalam kalimat ini? saya ingin mengajak pembaca untuk menginterpretasi pernyataan ini kedalam kajian kontekstual yang sifatnya komunikasi individu dalam interaksi sosialnya. Ini dalam rangka memahami ilmu bahasa (ilmu nahwu) bukan sebagai kumpulan teori kebahasaaraban yang statis dan skriptif saja, namun memiliki filosofi dan hermeneutika yang bagus untuk dikaji dan diterapkan dalam kehidupan sosial kita.a

Bahwa yang disebut dengan kalam itu adalah yang diungkapkan dan memiliki faedah, secara leksikal ini menunjukkan bentuk bahasa, karena bahasa tanpa diucapkan dan dimengerti, bukanlah bahasa. Maka dari itu, penting untuk berbahasa secara jelas dan mudah dipahami. Secara semantika, pernyataan Ibnu Aqil ini bisa kita interpretasikan dalam moralitas berbahasa, yakni bahwa yang disebut dengan ungkapan (kalam) itu adalah ucapan yang dilafalkan dan bermanfaat bagi orang lain. Kata faedah, memiliki makna yang banyak diantaranya: dipahami, bermanfaat, dan sebagainya. Kita tinggal memilih opsi yang tepat.

Pemaknaan kalam yang seperti ini akan membentuk model komunikasi yang baik diantara manusia, artinya jika seseorang berbicara dia harus memenuhi syarat, yakni jelas dan bermanfaat. Dengan demikian seseorang akan berfikir terlebih dahulu manfaat dari setiap ucapannya. Kenyataan ini secara tidak langsung akan terhubung kepada pernyataan nabi: falyaqul khoiran aw liyasmuth. “hendaklah mengatakan baik, atau diam.”

Selanjutnya, pernyataan dalam ilmu nahwu mengatakan, bahwa bagian dari kalam itu adalah: isim, fiil dan hurufIsim dimaknakan sebagai kata yang tidak terikat waktu, maknanya tetap. Adapun fiil dia terikat waktu, yakni maknanya dan penggunaannya dipengaruhi oleh waktu, jadi maknanya senantiasa berubah-ubah. Adapun huruf, adalah bagian kalam yang tidak memiliki makna apapun kecuali setelah dihubungkan dengan kata yang lainnya.

Kajian filosofis tentang pernyataan ini bisa kita mulai dengan mengelaborasi prinsip filsafat sosial Jhon Lock tentang individu yang mempengaruhi sosialnya. Dalam pandangannya, yang selanjutnya dikenal dengan “filsafat sosial liberal” mengatakan bahwa individulah yang mempengaruhi sosial. Kaitannya dengan hal ini, isim adalah hal yang tidak dipengaruhi oleh waktu, dalam hal ini dipengaruhi oleh apa yang disekelilingnya, model ini tentulah memiliki kecendrungan individual yang secara alami meninggalkan naluri sosialnya.

Kemudian tentang fiil, bahwa dia senantiasa dipengaruhi oleh keadaan atau waktu, sehingga sifatnya berubah-ubah. Seperti nashoro untuk “sudah menolong,” yanshuru untuk “sedang atau akan menolong.” Dalam hal ini fiil bisa menjadi antitesa dari teori pertama yakni prinsip filsafat sosial liberal, yaitu “filsafat sosial konservatif” yang dipelopori oleh Durkheim, dia mengatakan bahwa seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungannya, atau individu merupakan determinasi (bentukan) sosialnya. Dengan demikian, Fiil bisa menempati posisi utilitarianisme dalam filsafat moral, yakni paham yang mengatakan bahwa ukuran kebenaran itu ada pada kelompok atau komunitas suatu masyarakat.

Kemudian yang selanjutnya adalah huruf, yaitu bagian dari kalimat yang tidak memiliki makna apapun kecuali setelah disandingkan dengan yang lainnya. Dalam filsafat model semacam ini bisa dierelevansikan dengan kaum Relativisme, yang mengatakan bahwa kebenaran itu relatif, artinya tidak ada kebenaran sesungguhnya, dia akan senantiasa tergantung pada suatu hal. Demikianlah dengan huruf dia tidak memiliki makna yang jelas kecuali jika disandarkan dengan suatu bentuk yang lain.

Ketiga term dalam ilmu nahwu ini, secara gramatika tidak bisa berdiri sendiri secara parsial, mereka harus saling menyusun untuk membentuk suatu “kalimat yang utuh.” Maka dari itu, kaitannya dengan intraksi sosial, kita bisa belajar dari ketiga bagian kalam ini, bahwa kita tidak boleh menjadi seorang yang individual sehingga lupa tugas sosial, demikian pula kita tidak boleh berkorban begitu besar untuk lingkungan sosial yang pada gilirannya akan menyiksa diri secara individu. Dan juga, kita harus memilik sikap yang tegas dalam hidup, tidak boleh menjadi seperti huruf. Dengan demikian, terkadang kita memang butuh untuk total terhadap lingkungan sosial, namun dalam bebrapa hal kita juga butuh untuk menyendiri secara individu, dan jug kita butuh bersandar kepada orang lain untuk menemukan makna hidup yang sesungguhnya.

 

Post a Comment for "Nahwu dan Filsafat Sosial"