Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Makna Iqro’ dalam Al-Quran, Meneguhkan Tiang Peradaban

 


Tidaklah kebetulan mengapa wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah membaca, karena menjadi seorang nabi dengan tanggung jawab keselamatan manusia dan alam semesta dibutuhkan kemapanan intelektual


Tulisan ini mengajak kita untuk merenungi kembali garis awal sejarah peradaban manusia yang digores dengan satu kata indah, iqro’! Iya, ayat pertama yang diturunkan dalam tradisi keagamaan Islam tersebut memiliki dimensi makna yang sangat luas dan penting untuk dikaji, hal mendasar dari pesan ayat pertama tersebut adalah: “membaca!”

Suatu yang sering diabaikan, ditinggalkan dan menjadi hal yang membosankan bagi sebagian orang adalah membaca. Padahal aktivitas tersebut sejatinya sangat penting dan bermanfaat untuk merawat hakikat kemanusiaan kita yakni berpikir. Iya, karena membaca adalah modal utama dalam berpikir.

Bagi kita umat Islam, membaca seharusnya menjadi nilai dasar yang sangat prinsip. Sebagai pesan utama yang terkandung dalam wahyu yang pertama diturunkan, membaca seharusnya mendapatkan porsi besar di kalangan tradisi umat Islam. Namun demikian, fakta bahwa negara-negara muslim banyak yang ketinggalan dari negara-negara lainnya di dunia menunjukkan bahwa daya membaca masyarakat muslim masih sangat lemah.

Di belantara peradaban manusia saat ini, suara kaum intelektual muslim masih lemah dan tak berkutik terutama dalam konteks kemajuan Ilmu Pengetahuan dan teknologi. Suatu kecelakan sejarah yang memprihatinkan dimana kita pernah berjaya dengan taradisi membaca dan kini lebih akrab dengan tradisi mencela!

Membaca adalah gerbang utama ilmu pengetahuan. Tidaklah kebetulan mengapa wahyu pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw adalah membaca, karena menjadi seorang nabi dengan tanggung jawab keselamatan manusia dan alam semesta dibutuhkan kemapanan intelektual. Uniknya, tradisi membaca yang tersirat dari wahyu yang pertama turun adalah membaca dengan jangkauan yang sangat luas. Apapun!

Kita tentu ingat bagaimana nabi ditemui malaikat Jibril dan mengatakan, iqro’ (bacalah)!, sampai tiga kali. Dan setelah itu baru dilanjutkan dengan “Bacalah atas nama Tuhanmu yang menciptakan!” Mengapa ada kata iqra’ (bacalah) yang diulang-ulang? Bahkan setelah kalimat itu dilanjutkan tetapi objek tidak disebutkan. Padahal secara gramatika Arab, kata iqro’ adalah kata kerja yang membutuhkan objek (fi’il muta’addi). Disinilah pesan yang sangat luas itu tersirat. Bahwa pesan membaca ini mencakup seluruh bidang kehidupan. Itulah mengapa kitab Allah itu bukan hanya yang tertulis dalam al-Quran tetapi juga yang terbentang di alam semesta.

Guru kami yang mulia TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya menekankan murid-muridnya untuk tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga harus pandai membaca isyarat. Hal ini menunjukkan bahwa ‘membaca’ memiliki cakupan yang sangat luas. Bahwa apapun yang ada di dunia ini adalah bacaan yang perlu untuk dibaca.

Dalam konteks ilmu tauhid sebagai keilmuan yang sangat mendasar dalam diri orang yang beriman, juga dituntut untuk melakukan pembacaan ini, yakni mengkaji ayat-ayat Tuhan dalam al-Quran maupun ayat-ayat Tuhan dalam diri kita dan alam sekitar. Ibrahim Allaqqony berpesan: “Lihatlah (kajilah) dirimu kemudian lanjutkan dengan mengkaji alam yang lebih luas!”

Jika dalam hal Tauhid sebagai keilmuan paling dasar dari seorang yang beriman, agama sudah mendorong untuk melakukan pembacaan sekompleks itu, maka mengkaji berbagai bidang lainnya dalam kehidupan ini juga harus diperkaya dengan membaca.

Sebagai refleksi kita terhadap ayat tersebut, marilah kita menghidupkan semangat membaca untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan, guna memantapkan posisi Islam sebagai tiang peradaban.


Sumber gambar: surat-yasin.com

Post a Comment for "Makna Iqro’ dalam Al-Quran, Meneguhkan Tiang Peradaban"