Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kolase Makruf Amin, Antara Penghinaan dan Kritik

 


Belakangan warganet digegerkan dengan kolase Makruf Amin yang disandingkan dengan foto salah satu bintang film biru. Gambar yang kemudian dianggap menghina orang nomor dua republik ini menjerat sang pengunggah gambar dalam jerat kriminalitas. Saat ini pengunggah foto tersebut tengah berurusan dengan kepolisian. Di kantor polisi sebagaimana diberitakan beberapa situs berita nasional, orang tersebut menyesali perbuatannya dan sampai menangis terisak. Kasus ini meremas-remas otak kita untuk berpikir ada apa sebenarnya?

Fenomena ini menarik dikaji setidaknya karena tiga hal, Pertama, melibatkan tokoh besar bernama Makruf Amin, Kedua, karaktek gambar yang digunakan menyandingkan Makruf Amin. Ketiga, fakta status profesi pengunggah foto Makruf Amin.

Sebagaimana telah lumrah diketahui Makruf Amin bukanlah orang sembarangan, dirinya telah melanglang buana dalam peta politik nasional. Selain itu, dirinya juga merupakan tokoh penting salah satu ormas keislaman terbesar di negeri ini. ‘Status’ besar inilah yang kemudian mengundang kita untuk bertanya tentang fenomena ini. Mengapa pak Makruf Amin yang diserang melalui gambar tersebut? Apa motif semiotik yang disembunyikan kolase tersebut? Apa makna sesungguhnya kolase itu?

Disisi lain, gambar yang digunakan untuk menyandingkan KH. Makruf ini sangat kontras. Di tengah status keagamaan Makruf Amin yang sudah sangat mapan, serta dukungan jamaahnya yang sudah tak diragukan, dengan entengnya sang pengunggah menyandarkan Makruf Amin dengan tokoh besar film biru negeri matahari terbit itu.

Menariknya, pengunggah kolase tersebut ternyata adalah seorang pengurus MUI di daerah. Jabatan yang secara struktural merupakan bawahan Makruf Amin, mengingat dirinya pernah menjabat ketua MUI. Ibarat benang kusut, kasus ini rumit dan mengundang penasaran untuk diluruskan.

Penulis tidaklah memiliki data valid yang lengkap untuk membincang hal ini secara politik atau yang lain. Penulis mencoba melihat hal ini dalam kacamata semiotika. Suatu bidang keilmuan yang melihat fenomena sebagai sistem tanda.

Untuk kepentingan analisis, kita coba petakan kasus kolase gambar tersebut dengan memetakannya dalam ruang petandaan yang memadai. Setidaknya, fenomena tersebut dapat dituliskan dalam tiga sisi tanda. Pertama Makruf Amin sebagai tanda pemimpin bangsa. Sebenarnya banyak opsi pertandaan yang muncul ketika menyebut nama Makruf Amin, seperti: ketua MUI, PBNU, tokoh agama. Namun nampaknya dalam fenomena ini, pengunggah kolase tersebut ingin menyerang Makruf Amin dalam kapasistasnya sebagai pemimpin negara (wakil presiden).

Kedua, gambar ‘Kakek Sugiono’ sebagai makna kemungkaran. Makna ini diambil dari makna tingkat kedua dalam konsep Semiotika Roland Barthes. Menurut Barthes opsi makna ada pada beberapa tingkatan. Jika dalam fenomena ini, makna tingkat pertama, Kakek Sugiono melambangkan pemeran film biru. Dan pada tingkat kedua maknanya bisa lebih general, yakni karakter perbuatan tidak baik.

Menyandingkan Makruf Amin dan Kakek Sugiono sejatinya adalah sebuah tanda besar yang bisa jadi memiliki makna lebih luas dari hanya sebuah penyerangan identitas individual. Saya melihat fenomena ini tidak hanya terbatas pada penyerangan KH. Makruf Amin sebagai tokoh agama. Kalau tujuan kolase ini hanya untuk menyerang karakter Makruf Amin, misi ini dipastikan gagal. Kekuatan identitas Makruf Amin jauh sangat tinggi jika hanya merusaknya dengan isu murahan berbau selangkangan. Tapi disinilah kita perlu melihat fenomena kolase ini dalam paradigma semiotika yang lebih canggih.

Konsep mitos Roland Barthes sepertinya relevan untuk dijadikan kacamata. Menurut Barthes, suatu tanda akan menemukan maknanya dalam hubungan yang komplementatif baik dalam internal pertandaan maupun dalam konteks kulutral yang mengelilingi. Dalam hal ini medan kultural yang mengelilingi Makruf Amin dan Kakek Sugiono adalah level pemaknaan yang mungkin dituju oleh si pengunggah foto.

Dengan pembacaan yang sama, kenyataan semacam ini juga telah sering muncul dalam dunia media kita, Foto di Cover Tempo yang memperlihatkan gambar Jokowi dengan bayangan hidung pinokio bisa dijadikan contoh. Apakah gambar tersebut menghina Jokowi? hal ini tentu tidak bisa dinilai secara terburu-buru. Ada makna kritik di dalamnya.

Sepertinya, ada kekecewaan yang dialami oleh pembuat kolase dengan mempublikasikan hal tersebut di media. Sebagai orang yang dipimpin oleh bapak Makruf Amin, dia mungkin kecewa degan situasi yang mengelilingi negeri ini belakangan. Hal ini bisa kita kuatkan dengan caption yang menyertai gambar tersebut, “Jangan kau jadikan dirimu seperti Ulama tetapi kenyataannya kau penjahat agama. Di usia Senja Banyaklah Berbenah untuk ketenangan di Alam Barzah. Selamat melaksanakan Ibadah Shalat Jumat”.  

Memang tumpang tindihnya urusan politik dan agama di negeri ini masih menjadi pemandangan di dinding-dinding dialektika baik secara nyata maupun maya. Berbagai kebijakan pemerintah seringkali ditafsirkan oleh sebagian orang sebagai bentuk penggembosan terhadap roda beragama (terutama agama Islam). Anggapan itulah yang kemudian melahirkan kritik-kritik terhadap tokoh bangsa. Makruf Amin dalam hal ini dijadikan sasaran kolase tersebut mengingat dirinya sebagai orang pemerintahan sekaligus pemegang identitas keislaman yang mapan.

Jadi kolase itu sejatinya memiliki Medan makna yang lebih luas dari hanya sebuah penyerangan identitas. Mungkin sebuah kritik terhadap kualitas wakil presiden belakangan ini? Melalui kolase tersebut, sang pengunggah meluapkan kegelisahannya. Namun demikian caranya mungkin tidak tepat karena berpotensi melahirkan opsi-opsi makna yang lain sehingga dia dianggap menghina Makruf Amin.

Secara sekilas, kita patut menyayangkan sikap pengunggah kolase tersebut, karena hal itu merupakan tindakan tidak bermoral dan pastinya akan menimbulkan polemik yang lebih luas, mengingat Makruf Amin adalah tokoh besar yang memiliki banyak pengikut. Hal tersebut tentunya akan menyulut kegoncangan sosial di kalangan masyarakat karena merasa tidak terima atas penghinaan kepada kiyai mereka.

Namun demikian, dalam medan makna yang lebih luas (makna mitos), kolase Makruf Amin patut kita lihat dengan paradigma yang lebih luas dan terbuka. Para pemimpin perlu mengintrospeksi diri atas kinerja selama ini. Demikian pula para pendukung pemerintah terutama wakil presiden, tidak boleh menutup mata atas kritik yang muncul, meski mungkin dengan cara yang sedikit melukai. Oleh karena itu, kita tidak perlu terlampau mengambil perasaan dari kejadian ini.

Perlu dicatat, Makruf Amin untuk saat ini bukan lagi hanya seorang kiai, bukan hanya seorang tokoh agama, tetapi juga merupakan pejabat pemerintah. Oleh karena itu, Makruf Amin bukan lagi milik sebagian orang, tetapi miliki seluruh rakyat Indonesia. Karena luasnya tanggung jawab itulah konsekuensi semacam ini adalah hal yang lumrah terjadi.  

Dalam dunia teknologi dan informasi yang sudah semapan sekarang ini, berbagai media dan cara kritik sangat beragam. Kolase Makruf Amin, barangkali hanya sebuah metode kritik yang dilakukan oleh rakyat. Kita patut mendengarnya!

Sumber gambar: kataberita.id

Post a Comment for "Kolase Makruf Amin, Antara Penghinaan dan Kritik"