Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teknolinguistik; Reproduksi Bahasa Tanpa Batas

 


 

Salah satu bidang keilmuan dewasa ini yang terus berkembang dan senantiasa melahirkan cabang keilmuan adalah ilmu bahasa (linguistik). Lapangan keilmuan yang sebenarnya memiliki umur cukup muda dibandingkan dengan keilmuan-keilmuan yang lain. Linguistik berdiri sebagai sebuah lapangan keilmuan melalui seorang pemikir bernama Ferdinand de Saussure melalui bukunya, de lalinguistic yang terbit pertama kali pada akhir abad 19.

 

Pada kelanjutannya, tokoh-tokoh lain bermunculan yang secara teoritis banyak terinspirasi dari Ferdinand, seperti misalnya Charles Sander Pirece, Umberto Eco dan sebagainya. Mereka semua kemudian dikenal sebagai tokoh-tokoh linguistik yang memiliki spesifikasi kajian masing-masing.

 

Salah satu konsep dasar yang menjadi landasan bedirinya lingusitik adalah konsep langue dan parole-nya Ferdinand yang mana hal tersebut mewakili dari proses berbahasa manusia. Melalui parole-lah konsep-konsep linguistik berkembang, yang pada gilirannya melahirkan banyak sekali cabang keilmuan, seperti: sosiolinguistik, psikolinguistik, semiotika, dan lain sebagainya.

 

Kenyataan tentang perkembangan bahasa yang tak terbatas semakin hari semakin nampak nyata, apalagi dengan melihat perkembangan keilmuan dan teknologi manusia. Melalui bidang keilmuan begitu banyak istilah-istilah baru muncul sebagai konsekuensi karena etimologi yang digunakan mengikuti tema tertentu, seperti ilmu kedokteran, farmasi dan sebagainya. Demikian pula dalam bidang teknologi, di dalamnya peroses lahirnya bahasa (reproduksi bahasa) seolah tak terbatas. Hal tersebut bisa kita lihat dalam bahasa-bahasa yang cukup ruwet dalam alat-alat teknologi.

 

Tentu hampir semua kita memiliki telepon genggam, yaitu alat komunikasi yang kita bisa gunakan untuk menelpon seseorang atau mengirim pesan singkat. Dalam pesan singkat sering kali kita menemukan kosakata-kosakata aneh yang secara tuturan tidak bisa kita maknakan, misalnya kata “dirinya” ditulis “dirix”, kata “sama-sama” ditulis “sama2”.  Dan saya sangat merasa aneh entah mungkin hanya dalam bahasa pesan singkat muncul bahasa-bahasa alay. Misalnya, kata “banget” menjadi “biud”, kata “aku” menjadi “aqiu” dan berbagai bahasa lain yang sifatnya hanya gramatika tertulis dan jarang dituturkan.

 

Dalam alat teknologi lain, kita juga banyak menemukan bahasa-bahasa baru yang sebenarnya bersifat semiotik. Seperti konvensi bahasa dalam Black Berry Massanger (BBM) yang pernah trend dalam dunia komunikasi manusia modern beberapa tahun lalu. Bagi pengguna BBM, pasti mengerti jika disebutkan istilah R dan D atau tandan centang dan sebagainya. Seluruh tanda tersebut dalam proses berkomunikasi telah menjadi alat bahasa yang secara cepat bisa dipahami oleh para pengguna bahasa. Misalnya ada sebuah pertanyaan yang dibuat oleh seorang pemegang BBM, “lebih sakit mana di-R tapi tidak dibalas, dari pada di-D tapi status diganti?”


Dalam dunia komunikasi saat ini, model R dan D telah tergantikan dengan model centang satu, centang dua, centang dua biru dalam aplikasi pesan WhatsApp. Simbol-simbol tersebut telah memenuhi ruang komunikasi manusia saat ini dan di masa depan modelnya mungkin akan lebih aneh lagi.

 

Sekilas contoh di atas mungkin akan bingung dipahami oleh mereka yang belum pernah menggunakan BBM dan aplikasi WhatsApp, tapi akan langsung dipahami secara cepat oleh mereka yang biasa menggunakan alat komunikasi tersebut. Dengan demikian, teknologi telah membawa kita menuju konvensi bahasa yang tak terbatas yang dari sisi keilmuan linguistik, mungkin akan terlambat para ahli bahasa menghimpunnya dalam sebuah kamus yang disempurnakan.  

 

Berangkat dari data di atas, saya berkecendrungan untuk memunculkan istilah “Teknolinguistik” yaitu cabang linguistik yang mengkaji reproduksi bahasa manusia yang tak terbatas. Artinya selalu akan lahir bahasa melalui perkembangan teknologi yang hal itu sifatnya sangat kompleks bahkan mungkin tak terkendali! 

 

Post a Comment for "Teknolinguistik; Reproduksi Bahasa Tanpa Batas"