Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Semiotika Dekonstruksi Derrida

 

Jaques Derrida (w. 2004) adalah seorang filsuf yang terkenal dengan filsafat dekonstruksinya. Dalam pandangan teori dekonstruksi Derrida, bahasa merupakan penanda yang tidak terikat petanda (Sobur, 2010: 136). Hal ini merupakan antitesa dari konsep penanda dan petandanya (signifier/signified) Ferdinand de Saussure. Menurut Derrida bahasa seharusnya bebas dari ikatan sistemik yang berpotensi mengekang makna. Konsep petanda dan penanda bagi Derrida merupakan langkah menuju sistematisasi bahasa (Norris, 2002: 24-25). Konsekuensi dari hal ini adalah lahirnya bahasa yang tidak terbuka pada interpretasi yang lebih luas dan dalam.  

Berangkat dari hal tersebut, Derrida kemudian memunculkan konsep bahasa yang menekankan pada aspek dinamika makna. Artinya setiap kata sebagai tanda bahasa merupakan satu hal yang tidak bisa dipatenkan maknanya, namun harus selalu disesuaikan dengan waktu dan tempat menurut kebutuhan yang ada. Terkait dengan hal ini para ahli menyimpulkan teori Dekonstruksi bahasa Derrida dengan dua point utama yakni “mimesis tanpa asal usul” dan “apokalips tanpa akhir.”

Maksud kedua point tersebut: Pertama adalah tiruan suatu karya merupakan dekonstruksi karya itu sendiri, bukan dari yang lain. Kedua ‘apokalips tanpa akhir’ maksudnya adalah bahwa bahasa merupakan parodi di atas parodi bukan parodi di atas kehidupan atau apapun (realitas misalnya). Model apokalips tanpa kahir ini merupakan konsep yang relevan dalam melihat fenomena bahasa terutama dalam relasa bahasa dan moralitas (agama, sitem adat dan lain sebagainya).

Konsep semiotika Derrida ini sejatinya memiliki nafas yang sama dengan beberapa konsep pemikiran yang ditawarkan oleh beberapa filsuf bahasa lainnya. Wittgenstein pada periode kedua, memperlihatkan bahwa bahasa tidak bisa dimaknai dalam hubungan sitemik yang kaku, perlu diadakan pemahaman bahasa secara internal bahasa dan unsur eksternalnya. Wittgenstein kemudian mencetuskan konsep Language Games ‘permainan bahasa’ melalui perangkat teoritik yang populer dengan Philosophical Investigation(Mustansyir, 2007: 99).

Selain itu, konsep Dekonstruksi Derrida juga senafas dengan konsep tindakan bahasa yang dicetuskan Austin. Melalui Konsep ucapan performatif, Austin mengkritisi model pemahaman bahasa yang terlalu fokus pada hubungan sitemik bahasa. Menurutnya ada bentuk bahasa yang tidak bisa dinilai ‘benar atau salah’, tetapi ‘pantas atau tidak’. Konsep ucapan performatif menegaskan bahwa suatu tuturan tidak selesai pada penilai benar atau salah. Tetapi layak atau tidak. 

Diumpamakan dari penjelasan tersebut: “Ada seseorang anak-anak yang berjanji akan menikahi seorang gadis. Pernyataan tersebut tidak bisa dinilai salah atau benarnya, itu hanya bisa dinilai layak atau tidaknya”. Dapat dikatakan ucapan performatif yang dikembangkan oleh Austin memiliki titik telaah yang sama dengan konsep Derrida maupun Wittgenstein, yakni sama-sama menginginkan aspek eksternal bahasa hadir dalam proses menentukan makna.      

Referensi:

Mustansyir, Rizal. Filsafat Analitik; Sejarah, Perkembangan Dan Peranan Para Tokohnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Norris, Christopher. Deconsturction Theory And Practice. London: Rottledge, 2002.

Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

 

 

Post a Comment for "Semiotika Dekonstruksi Derrida"