Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Semiotika dalam Kajian Tafsir

Semiotika dapat dipahami sebagai ilmu tentang tanda. Menurut Roland Barthes tanda memiliki dua makna yakni makna denotatif dan konotatif[1]. Model makna denotatif adalah makna tingkat pertama dan konotatif adalah makna tingkat kedua. Artinya ada makna di balik makna. Kajian semacam ini sangat relevan dalam kajian-kajian puisi (syair). Reefatre mengatakan bahwa dalam menginterpretasi puisi (sastra) digunakan istilah pembacaan Heuristik  dan Hermeneutik.[2] 

Tidak hanya pada kajian sastra, dalam analisis teks suci pun bisa digunakan konsep semiotika, terlebih jika kita berpijak pada argumentasi bahwa Al-Qura>n adalah kitab sastra terbesar.[3] Dengan demikian, dalam konteks tafsir Al-Qura>n, denotatif  dan konotatif bisa dimaknakan dalam konsep makna di dalam teks dan makna sekitar teks (ma> fin nas} wa ma> h}awlan nas})[4]

Terapan semiotika dalam bidang komunikasi sesungguhnya bukanlah hal baru dalam diskursus semiotika. Istilah Semiotika Komunikasi sudah lumrah digunakan. Telah banyak buku-buku yang berbicara tentang bidang yang satu ini. Alex Sobur misalnya menulis buku berjudul Semiotika Komunikasi. Berdasar keterangan  dari buku tersebut, peneliti akan menggunakan beberapa konsep sebagai kerangka konseptual dalam membangun analisis yang berimbang. 

Menurut Sobur, tanda dalam komunikasi memang memiliki kekhasan tersendiri.[5] Hal tersebut menjadi catatan penting dalam penelitian komunikasi dengan basis data berupa teks kitab suci. Tanda dalam komunikasi bersifat dekonstruktif, artinya hubungan pertandaan yang bersifat struktural sering kali tidak berlaku. Oleh karena itu semiotika komunikasi sejatinya memiliki prinsip yang sama dengan konsep makna konotatif dalam terminologi Roland Barthes.

Dalam semiotika komunikasi, kita tidak bisa mengelak dari kajian media. Hal ini mengingat media menjadi ruang komunikasi yang sangat terbuka dan tak terbatas. Berdasarkan hal tersebut Yasraf Amir Piliang menyebut ruang komunikasi media sebagai ruang cyber (cyber space). Dalam ruang cyber tanda-tanda terkonstruksi dalam susunan yang dekonstruktif. Artinya hubungan pertandaan tidak sebagaimana konsep klasik dalam linguistik yaitu hubungan penanda dan petanda. 

Dipahami dari konsep Roland Barthes, bahwa tanda memiliki dua komponen penting yaitu penanda dan petanda. Petanda dipahami sebagai konsep dan penanda sebagai materi (bentuk).[6] Adapun dalam ruang media hubungan pertandaan tidak lagi demikian. Yasraf kemudian mengajukan istilah hipersemiotika untuk menggambarkan pertandaan dalam media. Dari konsep itulah berbagai tanda kemudian dimunculkannya sebagai ragam pertandaan seperti tanda ironik, skizofrenik dan lain sebagainya.[7] Pada prinsipnya pada kajian semiotika komunikasi tanda harus diinterpretasi secara komprehensif.   

Penelitian yang mengambil teks kitab suci sebagai telaah kajiannya, maka tentu saja pendekatan yang digunakan adalah pendekat tafsir (hermeneutik). Dalam hal ini konsep semiotika dimasukkan dalam kerangka teoritik hermeneutika, oleh karena itu digunakan konsep hermeneutika yang mengakomodasi teori semiotika di dalamnya. 

Ada banyak pemikir hermeneutika yang menjadikan semiotika sebagai salah satu perangkat dalam kerangka konsep penafsirannya. Paul Ricoeur misalnya menggunakan semiotika dalam salah satu perangkat hermeneutiknya. Dengan argumentasi bahwa kata adalah simbol maka kaitannya dengan objek dalam penelitian tafsir, objek dalam penelitiannya akan diinterpretasi secara simbolik kemudian dilanjutkan dengan interpretasi secara general.

Berdasarkan Sumaryono, pola hermeneutika Ricoeur sama seperti pola pemahaman bahasa yakni melalui tiga langkah: semantik, refleksif dan eksistensial. Pada prinsipnya Ricoeur  melihat bahwa suatu interpretasi ada pada otoritas penafsir (self-understanding)[8] dengan tercakup di dalamnya horizon cakrawala pemahaman[9]. Maksudnya seorang penafsir boleh menginterpretasikan sesuatu dengan merujuk pada argumentasi-argumentsi yang memiliki kesamaan dengan pengarang (author) dan mengkontekstualisasikannya dengan kebutuhan pada saat dia menginterpretasi. Dengan demikian teks-teks masa lalu bisa ditafsirkan berdasarkan pada konteks kekinian guna meresolusi suatu persoalan.

 

 



[1] Ukessays.com. Roland Barthes and His Semiotic Theory. Melalui situs: https://www.ukessays.com/essays/cultural-studies/. Akses tanggal 18 Mei 2019. Lihat juga, Alex Sobur. Semiotika Komunikasi. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 30

[2] Ahmad Djoko Pradopo. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2011), hlm. 125

[3] Amin Al-Khuli. Manâhij Tajdîd fi Nahw wa al-Balâghah wa al-Tafsîr wa al-Adab. (Cairo: Dâr al-Ma'ârif, 1961), via. https://scholar.google.co.id/scholar. Akses tanggal 2 Desember 2018

[4] Amin Al-Khuli. Manâhij Tajdîd fi Nahw wa al-Balâghah wa al-Tafsîr wa al-Adab.

[5] Alex Sobur. Semiotika Komunikasi., hlm. 32

[6] Alfatri Adlin (pengantar editor) dalam Yasraf Amir Piliang. Semiotika dan Hipersemiotika: Kode, Gaya dan Matinya Makna (Bandung: Matahari, 2012), hlm. 23

[7] Yasraf Amir Piliang. Semiotika dan Hipersemiotika, hlm. 386-387

[8]Ruby Suazo. Ricoeur’s Hermeneutic as Appropriation: A Way of Understanding One Self In Front of the Text. (San carlos: Department of Philosophy University of San Carlos. Tanpa tahun), hlm. 1.

[9] Rene Ganelleous. Exploring Ricoeur’s Hermeneutic Theory of Interpretation as a Method of Analysing Research Texts. (Nepean: School of Health and Nursing UWS, 2000), hlm. 112

5 comments for "Semiotika dalam Kajian Tafsir"

  1. Mantabs..ulasannya menjadi literasi baru buat saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sipp, mari terus bersilaturrahmi sambil belajar...

      Delete
  2. marketing assignment help includes detailed research from authentic resources which are hard to find for the students because they don’t have the relevant experience of research writing. Assignment Studio has in house academic writers that have the required experience in research writing in the field of Marketing.

    ReplyDelete