Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prinsip Filsafat Bahasa dan Etika dalam Pemaknaan Kalam Ibnu Malik

Dalam kajian filsafat bahasa (filsafat analitik) kita selalu diarahkan pada tokoh-tokoh barat yang dinilai sebagai penggerak dan pengembang kajian keilmuan tersebut. Jarang sekali kita diarahkan kepada pemahaman para “filosof timur” padahal dari sisi substansi keilmuan timur sejatinya menyajikan pemikiran-pemikiran yang khas dan penuh nilai-nilai epistemologis[1]. Salah seorang tokoh bahasa dari timur adalah Ibnu Malik (w.1250 M) seorang linguis dari Andalusia (Spanyol) yang dengan karyanya yang fenomenal yaitu Alfiyah telah melambungkan namanya sehingga dia terus hidup bahkan setelah ribuan tahun dari kematiannya. Ibnu Malik telah mewariskan harta yang tiada taranya yaitu warisan intelektual yang patut diabadikan oleh siapapun.

Dalam tulisan ini penulis akan mendiskusikan pemaknaan kalam oleh Ibnu Malik. Penulis melihat bahwa dalam pemaknaan kalamnya menyiratkan makna yang dapat diinterpretasikan dengan pembentukan prinsip-prinsip filosofis baik dalam kajian filsafat bahasa ataupun filsafat kehidupan secara umum (filsafat moral).

Sebelumnya, jika kita berbicara prinsip-prinsip dasar filsafat bahasa, kajian selalu diarahkan kepada tokoh-tokoh yang lumrah dikenal dalam buku-buku yang kita pelajari. Nama-nama seperti: Immanuel Kant (w.1804), Wittgenstein (w. 1951), Austin (w. 1960) dan lain sebagainya menjadi rujukan lumrah prinsip-prinsip filsafat bahasa. Tokoh-tokoh tersebut secara argumentatif memiliki kecendrungan saling melengkapi, misalnya teori bahasa yang dicetuskan oleh Wittgenstein merupakan penyempurnaan konsep filsafat bahasa yang digagas oleh Immanuel Kant[2].

Secara epistemologis, Kant sendiri merupakan filosof yang mencoba mengevaluasi pemikiran filsafat bahasa sebelumnya. Yakni proses rekonsiliasi antara empirisme dan rasionalisme. Itulah kemudian yang menyebebakan filsafat analitika bahasa secara diakronik mengalami dinamika yang cukup signifikan tergantung pada model filsafat yang tengah berkembang pada saat itu.

Untuk dimaklumi tulisan ini bukanlah dalam upaya memfalsifikasi teori-teori lalu tentang filsafat bahasa yang disebutkan di muka, tapi hanya ingin mengelaborasi suatu tinjauan hermeneutik atas kaidah gramatika Arab yang disusun oleh Ibnu Malik. Bukan maksud penulis untuk memberlakukan metode baru terhadap fenomena lama atau dalam bahasa Foucault sebagai model kesia-siaan inteketual karena merupakan tindakan ilmiah yang melupakan situasi metodelogis fenomena sebelumnya[3] 

Jika kita melihat secara substansi pemikiran, model filsafat bahasa yang berkembang memang sangat runut dan dinamis, artinya model berangkat dari hal-hal materi (kata, kalimat, preposisi) sampai hal-hal immateri (makna). Dengan demikian proses berdirinya kajian filsafat analitik sangatlah panjang dan kompleks.

Kaitannya dengan hal tersebut, meilhat pemaknaan kalam pada bait ke delapan dari kitab Alfiah disana ada pemaknaan yang menurut penulis cukup kompleks dimana dalam kalimat tersebut mengandung implikasi makna yang holistik. Kalimat yang berbunyi: kalamuna lafzun mufidun kastaqim. Yang berarti: kalam kita adalah yang bisa disebutkan dan memiliki fungsi serta makna seperti kata istaqim (istiqomahlah). Sekilas konsep bahasa yang digagas Ibnu Malik nampak berupa penggabungan antara bentuk kongkrit bahasa dan bahasa dalam tuturan aktif.

Berangkat dari latar belakang tersebut tulisan ini akan diarahkan kepada pengkajian pemaknaan kalam Ibnu Malik yang memiliki implikasi terhadap pembentukan prinsip dasar filsafat bahasa serta filsafat hidup pada umumnya, maka dari itu pertanyaan yang bisa diajukan sebagai rumusan masalah dalam tulisan ini adalah bagaimana pemaknaan kalam ibnu Malik serta implikasi teoritisnya terhadap berdirinya prinsip filsafat bahasa? Kedua, bagaimana konsep filsafat moral sebagai implikasi hermeneutik terhadap pemaknaan kalam Ibnu Malik?

PEMBAHASAN

Prinsip-prinsip filsafat bahasa

Imam Ibnu Malik mengatakan tentang Kalam pada bait ke delapan dalam kitab Alfiah bahwa kalam itu adalah lafaz yang bisa dipahami seperti (kata) istaqim. Dalam sudut pandang Semantik, susunan kata di atas tidak utuh secara makna karena memicu kegnjalan pemahaman namun disini kita bisa melihat susunan kata tersebut bukan hanya sebatas kata-kata tetapi sebagai simbol. Untuk mengidentifikasi prinsip filsafat bahasa yang ada dalam kalimat tersebut kita bisa mengkorelasikannya dengan model filsafat bahasa yang tengah berkembang saat ini. Sebagaimana konsep penafsiran Ricour bahwa hasil interpretasi bisa disandarkan pada berbagai pendapat atau dalam terminologi Gadamer “mempertemukan berbagai cakrawala.”

Kalamuna sebagaimana dijelaskan oleh ‘Asymuni[4], ditunjukkan kepada para ahli nahwu jadi lengkapnya kalimat tersebut berbunyi: “kalamuna ayyuha an-Nuhat.” Artinya dhomir nun kembali kepada mutakallim dan para Nuhat (ahli nahwu). Demikian pula pada kalimat ismun wa fi’lun tsumma harfunil kalim. Penggunaan tsumma (bukan wau) ditunjukkan kepada karakter harfun yang berseberangan dengan isim dan fi’il[5]  Dari penjelasan satu baris dari kitab Alfiah tersebut, ada dua hal yang menarik untuk dikaji lebih jauh yang di dalamnya terdapat prinsip filsafat bahasa yang penulis maksudkan disini. Pertama pada lafaz istaqim, yakni dari sisi Paradigmatik, kenapa penulis menggunakan kata ini? yaitu kata yang berbentuk fi’lu amrin, atau kata perintah. Bukan kata benda atau sifat. Kedua pada kata tsumma harfun ‘kemudian huruf’ kenapa tidak wa harfun ‘dan huruf’?

Terlepas dari penjelasan Ibnu Hisyam tentang pernyataan tersebut, jika dalam kontek memposisikan kalimat tersebut sebagai simbol-simbol ada implikasi makna lain yang mungkin ingin ditunjukkan oleh pengarang. Tapi sebelum kita mengelaborasi lebih jauh tentang implikasi simbol-simbol (kata) tersebut, kita selesaikan dulu model prinsip filsafat bahasa dalam pandangan Ibnu Malik.

Dalam kajian filsafat bahasa pada umumnya, persoalan yang dimunculkan seputar pemaknaan kalimat dan hakekat bahasa. Jika dipetakan, pemaknaan bahasa secara filosofis (sejauh yang dijangkau sejarah umum) dimulai dari Socrates, filosof asal Yunani yang terkenal dengan konsep dialektik kritis. Konsep yang dijadikan jurus oleh Socrates melawan kaum Sofis pada waktu itu[6], merupakan benih lahirnya konsep filsafat bahasa. Artinya makna bahasa diperoleh setelah diadakan uji interaktif antara para penutur dengan mengadu argumentasi yang bertentangan. Setelah Socrates pemikiran filsafat analitik dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Aristoteles, tokoh ini dikenal sebagai peletak dasar istilah-istilah untuk membedakan suatu tuturan yaitu, kata dan kalimat. Rangkaian keduanyalah yang disebut oleh Aristoteles sebagai bahasa[7]. Artinya suatu bahasa terdiri dari kata-kata dan kalimat-kalimat yang tersusun.

Setelah itu tokoh filsafat bahasa selanjutnya adalah Immanuel Kant yang dikenal dengan konsep etikanya. Bagi Kant bahasa harus mengandung etika. Darinyalah bisa dinilai suatu tuturan baik atau tidak. Konsep ini kemudian diteruskan oleh Edward Moore (w.1958) yang menilai suatu bahasa berdasarkan pada etika. Basis bahasa yang ditawarkan oleh Moore adalah logika. Artinya suatu tuturan harus sesuai dan dipahami oleh akal sehat. Disini sudah mulai dimasuki oleh paham rasionalisme (dalam kajian filsafat barat). Secara epistemologis pemikiran Kant maupun Moore memiliki kecendrungan untuk menggabungkan model filsafat rasionalisme dan empirisme.

Beberapa tahun selanjutnya filsafat bahasa mengalami kritik lebih jauh lagi yang dilakukan oleh Witgenstein yang terkenal dengan teori atomisme logis-nya. Bagi Witgenstein (1986) pemaknaan bahasa paling dasar adalah pemaknaan yang bisa diakomodasi oleh logika. Artinya kata bukanlah satuan terkecil bahasa namun demikian satuan terkecil itu ada pada ungkapan paling dasar yang bisa dimaknai oleh akal. Misalnya seseorang yang mengatakan “berdiri”. Kata tersebut (berdiri) tidaklah memiliki makna jika tidak ada penjelasan tentang berdiri itu, seperti dengan menambahkan kata Irpan (nama orang) sehingga menjadi Irpan berdiri, atau nama apapun untuk memberikan keterangan makna.

Jika melihat konsep-konsep di atas, pemaknaan kalam Ibnu Malik mengandung prinsip dasar filsafat bahasa yang jika dipetakan sejajar dengan konsep filsafat bahasa modern yakni sejak Wittgenstein mencetuskan konsep atomisme logis-nya. Kenapa saya mengatakan bahwa konsep kalam-nya Ibnu Malik seperti substansi dalam konsep atomisme logis? Jika kita melihat secara substantif dasar dari teori Wittgenstein adalah pemaknaan paling dasar dari suatu bahasa bukan pada kata tetapi pada unsur logis yang ada di dalamnya. Artinya setiap kata tidak bisa mengandung unsur logis, sehingga memerlukan kata yang lain untuk membangun suatu premis yang logis.

Dalam bait pemaknaan kalam ibnu Malik, kita melihat bahwa contoh yang disebutkan oleh Ibnu Malik adalah bentuk kata kerja (istaqim). Kata kerja ini dalam kajian linguistik Arab merupakan kalam atau pernyataan yang bisa langsung dipahami karena di dalamnya terdapat dhomir mustatir (kata ganti tersembunyi) yang secara sistematis melengkapi makna[8]

Dalam relasi paradigmatik pemaknaan kalam ini memiliki prinsip-prinsip dasar filsafat bahasa. Sebagaimana disinggung di muka, model prinsip filsafat bahasa yang dikembangkan dewasa ini merujuk kepada beberapa hakikat bahasa yaitu pemaknaan logis. Kaitannya dengan hal itu konsep kalam-nya ibnu Malik tercakup dalam prinsip-prinsip dasar filsafat bahasa. Kata lafzun misalnya yang berarti dituturkan merupakan salah satu bentuk bahasa dari dua komponen penting bahasa yakni dituturkan dan memiliki makna[9]. selain lafzun (dituturkan) menurut Ibnu Malik sebuah kalam harus mufid, yakni dipahami. Dengan demikian tentu saja konsep kalam Ibnu Malik telah memenuhi dua syarat penting pemaknaan bahasa.

Apa yang dikonsepsikan oleh Ibnu Malik jika kita korelasikan dengan pemaknaan bahasa oleh para tokoh Filsafat bahasa (refleksif konfirmatif) maka sejatinya Ibnu Malik telah melampui seluruh model konsep filsafat bahasa itu. Moore, Kant hingga sampai pada Wittgenstein Bahkan sampai konsep berbahasa seperti yang dikonsepsikan oleh Austin misalnya tentang tindakan bahasa juga telah tercakup maknanya dalam pemaknaan Kalam Ibnu Malik. Seperti dikatan bahwa contoh dari Kalam itu adalah kata istaqim. Berdasarkan penjelasan al-Asymuni, kata istaqim bisa bermakna sebagai mitsal (contoh) dari kalam itu, juga bisa bermakna bagian (unsur) substantif dari kalam.[10]

Berdasarkan keterangan Asymuni, bisa diinterpretasikan bahwa istaqim ‘konsistenlah’ sebagai bagian dari teks pemaknaan kalam Ibnu Malik (bukan sebatas contoh kata). Kaitannya dengan hal itu, kembali kepada pemaknaan bahasa Austin, di dalam pernyataan ini terkandung tindakan bahasa. Artinya seorang penutur bahasa yang baik harus konsisten (istaqim) dengan apa yang dikatakan sehingga tidak menciderai tuturan yang sudah dikeluarkan. Austin melihat bahwa suatu pernyataan yang tidak diikuti oleh keselarasan tindakan meruapakan tuturan yang sia-sia (Void)[11]

Dapat disimpulkan bahwa model filsafat bahasa yang tersirat pada konsep pemaknaan kalam Ibnu malik adalah suatu tuturan haruslah memiliki unsur materi berupa wujud kata atau kalimat dan unsur immateri berupa pemaknaan logis di dalamnya. Selain itu suatu tuturan harus disertai dengan etika tindakan seperti misalnya konsistensi. Dengan demikian prinsip filsafat bahasa yang dieksplisitkan oleh Ibnu Malik mencakup ide-ide filosofis seperti yang digagas oleh Aristoteles, Wittgenstein dan Austin. Artinya dalam pemaknaan Kalam Ibnu Malik tergabung teori-teori tersebut.            

Relasi etika

Sebagaimana dalam pemaknaan etika pada umumnya, sejatinya belum ada ukuran untuk sebuah etika. Para ilmuan sosial telah menghabiskan berabad-abad untuk mengkaji yang namaya etika. Namun demikian kita bisa mengatakan bahwa dasar dari prinsip filsafat etika ada pada tindakan. Yaitu sebuah tindakan yang diukur oleh orang-orang di sekeliling subjek suatu tindakan[12]. Kaitannya dengan hal itu sebagai kelanjutan dari kerangka hermeneutika Recour yakni pada tahapan interpretasi makna simbol dapat dilihat beberapa model filsafat etika dalam pemaknaan kalam Ibnu Malik.

Dalam Syarah Ibnu Aqil, telah dibedakan model kalam, yaitu kalim, kalimatun dan kalam itu sendiri. kalim ditunjukkan pada kalimat yang belum sempurna secara makna (ghoiru mufid) seperti ketika seseorang mengatakan in qoma zaidun. (jika zaid datang). Contoh ini dianggap bukan kalam tetapi kalim karena masih mengandung pertanyaan selanjutnya. Adapun Kalimatun merupakan bentuk satuan kata[13]. Adapun kalam adalah bentuk tuturan yang paling sempurna dimana seorang yang mendengar memahami tuturan tersebut, sehingga tidak perlu bertanya kembali perihal tuturan. Dengan demikian kalam adalah tuturan yang paling kongkrit dan di dalamnya terkandung kompleksitas kata-kata dan tindakan. Telah disimpulkan di muka bahwa model kalam ibnu Malik memiliki asas filsafat bahasa yang generatif dimana pengarang secara eksplisit memaparkan konsep tersebut.

Untuk menuju suatu tuturan yang sempurna, seorang penutur harus memiliki kesadaran tutur (lafzun) sehingga bisa dipahami oleh penangkap tuturan (mufid). Dalam konteks etik, sebagai kelanjutan dari pemaknaan kata istaqim, sebuah tuturan menjadi sempurna ketika memiliki karakter logis, bisa dipahami dan konsisten dengan apa yang dikatakan. Dengan demikian pemaknaan kalam ini mengajarkan tentang etika tutur dan tindakan.     

Basis etika yang tersirat dari pemaknaan kalam di atas adalah model kesadaran etik yaitu bagaimana seseorang sebelum bertindak memiliki kesadaran etika yang secara naluri telah dimiliki oleh setiap manusia. Kesadaran etik (religius) ini sebagaimana yang dikatakan oleh Kant akan berimplikasi terhadap bagusnya suatu tindakan. Apa yang disebut sebagai deontologi dalam filsafat etika Kant merupakan pemaknaan etika yang mengatakan bahwa baiknya suatu tindakan dipengaruhi oleh niat baik yang ada di dalam jiwa manusia[14].

Dilihat dari sisi tindakan, isim, fi’il dan huruf  sebagai bagian dari kalam merupakan representasi dari model tindakan manusia. Bahwa ada manusia yang bertindak seperti karakter Ism yaitu tidak mau dipengaruhi oleh waktu dan tempat (lam yaqtarin bizamani wad’a). Dan ada pula manusia yang bertindak dengan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya seperti fi’il (yaqtarin bizamanin wad’a) serta ada pula yang hidupnya hanya bergantung pada orang lain seperti harfun (ma’na bil akhor).

Dalam kajian filsafat moral, ada empat model karakter manusia dalam bertindak yaitu: pertama, egoisme psikologis, yang mengatakan bahwa manusia bertindak dalam rangka memenuhi keinginan-keinginan pribadinya saja. Kedua, utilitarianisme yakni paham yang mengatakan bahwa tindakan manusia harus dalam rangka membahagiakan orang lain. Ketiga, adalah kontrak sosial yang mengatakan bahwa tindakan manusia harus berdasarkan pada hukum sosial di lingkungannya. Dan yang terakhir adalah aliran Immanuel Kant yang memandang bahwa dalam bertindak manusia harus memiliki etika dan etika itu sendiri telah ada dalam diri manusia yang ia sebut sebagai “kehendak berbuat baik.”[15]

Jika dikorelasikan beberapa model tindakan di atas, pemaknaan kalam Ibnu Malik (kaedah gramatika Arab secara umum) menunjuk kepada berbagai pola tindakan manusia itu seperti karakter cukup dengan dirinya sendiri (isim), membutuhkan orang lain (fiil) dan yang selalu tergantung kepada orang lain (harfun). Isim bisa dikorelasikan ke dalam bentuk egoisme psikologis dan fi’il bisa dikorelasikan dengan kontrak sosial sementara harfun sebagai utilitarianis yang segala tindakannya memerlukan eksistensi orang lain. Karena kebutuhan yang berlebihan terhadap kebermanfaatan atas orang lain maka eksistensi orang seperti ini sangat tergantung pada eksistensi orang lain. Dalam teori sosiologi hal ini bisa dikatan seperti narsisme yang pernah menjadi trend dalam gaya kehidupan masyarakat Eropa. Berpijak dari hal ini maka dapat dikatakan bahwa karakter Harf seperti kaum utilitarianis yang sangat membutuhkan eksistensi orang lain untuk menunjukkan fungsi diri.

Penekanan filsafat tindakan yang tersirat dalam pemaknaan kalam Ibnu Malik adalah pada penyebutan bagian-bagian kalam (Aqsamul kalam). Pengarang mengatakan: wasmun wa fi’lun tsumma harfunil kalim. Kata isim dan fiil dihubungkan dengan huruf wau yang berarti ‘dan’ sedangkan harfun dihubungkan dengan kata tsumma yang berarti ‘kemudian’. Berdasarkan penejelasan Ibnu Aqil, diksi ini dipilih karena harfun memiliki karakter yang jauh berbeda dengan isim dan fiil. Artinya, isim merupakan representasi diri seseorang yang memiliki karakter dan kemandirian dan fiil merupakan bentuk relasi sosial yang harus dimiliki oleh seseorang. Penggunaan huruf athof ‘kata hubung’ yang berbeda (tsumma) menunjukkan untuk kita menghindari menjadi manusia berkarakter seperti harfun yakni yang eksistensi dirinya hanya bergantung (hidup) pada orang lain. Implikasi hermeneutis yang kemudian ingin penulis tampilkan sebagai model etika tindakan sebagai refleksi kajian ini adalah bahwa hendaklah memilih menjadi manusia yang mandiri dan peduli dan tidak membebankan orang lain.

 

KESIMPULAN

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model prinsip filsafat bahasa yang tersirat dari pemaknaan kalam Ibnu Malik adalah suatu tuturan haruslah memiliki unsur materi berupa wujud kata atau kalimat dan unsur immateri berupa pemaknaan logis di dalamnya. Selain itu suatu tuturan harus disertai dengan etika tindakan seperti misalnya konsistensi. Adapun bentuk filsafat moral atau etika yang terkuak dalam pemaknaan kalam Ibnu Malik adalah manusia yang baik adalah manusia yang memiliki prinsip kemandirian (ism) dan peduli kepada orang lain (fi’lun) serta tidak layak seseorang menjadi orang yang eksistensinya hanya bergantung kepada orang lain (harfun). Singkatnya etika itu diukur oleh konsistensi seseorang antara ucapan dan tindakan serta pada kematangan prinsip diri dan kepedulian sosial.

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Anshori, Ibnu Hisyam. Audhohul Masalik Ila Alfiati Ibn Malik. Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiah. 2012

Aqil, Ibnu. Syarh Ibnu Aqil. Surabaya: Alhidayah. Tanpa tahun.

Al-Gholayaini, Musthafa. Jami’uddurus al-Lughotil Arobiyah. Birut: Darul Bayan. 2008.

Al-Asymuni. Syarhul Asymuni ala Alfiayati Ibn Malik. Maktabah Syamilah

Abdillah, Zamzam Afandi. Bias Teologis Dalam Linguistik Arab dalam jurnal Adabiyyat Vol. 7. No. I. Yogyakarta: Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2008.

Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. 2012

Endarswara, Swardi. Metodologi Kritik Sastra. 2013. Yogyakarta: Penerbit Obor

Ganellous, Rene. Exploring Ricoeur’s Hermeneutic Theory of Interpretation as a Method of Analysing Research Texts. Nepean: School of Health and Nursing UWS. 2000.

Hatta, Muhammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI Press. 2006

Hidayat, Asep Ahmad. Filsafat Bahasa; Mengungkap Hakekat Bahasa, Makna Dan Tanda. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2014.

Kulsum, Robi’ah Ummi. Kajian Nahwu Sosial. Dalam situs: http://bdkjakarta.kemenag.go.id. Akses tanggal 2 desember 2015

Mustansyir, Rizal. Filsafat Analitik; Sejarah, Perkembangan Dan Peranan Para Tokohnya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007.

Nugroho, Wahyu Budi. Orang Lain Adalah Neraka; Sosiologi Eksistensialisme Jean Paul Satre. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2013

Parmer, Richard E. Hermeneutika Teori Baru Mengenai Interpretasi. Terj. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2005.

Piliang, Yasraf Amir. Semiotika dan Hipersemiotika; Kode, Gaya Dan Matinya Makna. Bandung: Matahari, 2012.

Poedjawiyatna. Etika; Filsafat Tingkah Laku. Jakarta: Rineka Cipta. 1990

Pradopo, Ahmad Djoko. Prinsip-Prinsip Kritik Sastra. 2011. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Rachels, James. Filsafat Moral. Terj. A Sudiarja. Yogyakarta: Kanisius. 2004

Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Sumaryono, E. Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 1999

Sumarna, Ellan. Filsafat Etika Kant. Makalah.

Suazo, Ruby S. Ricoeur’s Hermeneutic as Appropriation: A Way of Understanding One Self In Front of the Text. San carlos: Department of Philosophy University of San Carlos. Tanpa tahun.

Wittgenstein, Ludwig. Philosophical Investigation. Terj. Anscombe. Basil: Basil Balckwell. 1986.

Zuhry, Ach. Dhofir. Filsafat Timur; Sebuah Pergulatan Menuju Manusia Paripurna. Malang: Madani. 2013

Zuhry, Ach. Dhofir. As-Sirah Al-Falsafiyyah. Jilid II. Malang: STF Al-Farabi Press. 2012

 

*Tulisan ini versi pendek dari artikel jurnal saya yang dimuat di Jurnal Alfatin IAIN Metro Lampung (2018)

 

 



[1] Ach Dhofir Zuhry. Filsafat Timur; Sebuah Pergulatan Menuju Manusia Paripurna. (Malang: Madani, 2013), hlm. 7

[2] Rizal Mustansyir. Filsafat Analitik; Sejarah, Perkembangan dan Peranan Para Tokohnya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 36

[3] Yasraf Amir Piliang. Semiotika dan Hipersemiotika; Kode, Gaya Dan Matinya Makna. (Bandung: Matahari, 2012), hlm. 125

[4] Al-Asymuni. Syarhul Asymuni ala Alfiayati Ibn Malik. (Maktabah Syamilah, 2008)

[5] Ibnu Hisyam. Audhohul Masalik Ila Alfiati Ibn Malik. (Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiah. 2000), hlm. 4

[6] Muhammad Hatta. Alam Pikiran Yunani. (Jakarta: UI Press, 2006), hlm. 14

[7] Rizal Mustansyir. Filsafat Analitik; Sejarah, Perkembangan Dan Peranan Para Tokohnya., hlm. 37

[8] Musthafa Al-Gholayaini. Jami’uddurus al-Lughotil Arobiyah. (Birut: Darul Bayan, 2008), hlm. 27

[9] Abdul Chaer. Linguistik Umum. (Jakarta: Rineka Cipta, 2012), hlm. 285

[10] Al’Asymuni. Syarhul Asymuni ala Alfiayati Ibn Malik. Maktabah Syamilah.

[11] Rizal Mustansyir. Filsafat Analitik., hlm. 131

[12] Poedjawiyatna. Etika; Filsafat Tingkah Laku. (Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 24

[13] Ibnu Aqil. Syarh Ibnu Aqil. (Surabaya: Alhidayah, Tanpa tahun), hlm. 5

[14] James Rachels. Filsafat Moral., hlm. 45

[15] James Rachels. Filsafat Moral.


sumber gambar: muhaatim.blogspot.com

Post a Comment for "Prinsip Filsafat Bahasa dan Etika dalam Pemaknaan Kalam Ibnu Malik"