Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bergesernya Medan Semantik Istilah ‘Good Looking’

 


Sejak menteri agama Fachrul Rozi, mengeluarkan statemen tentang bahaya radikalisme yang masuk melewati orang-orang yang good looking, praktis, istilah tersebut mengalami degradasi semantik. Awalnya kata tersebut bermakna baik, “ganteng”, kemudian bergerak menuju ruang makna yang bergelayut di medan makna negatif. Peralihan paradigma linguistik ini menarik dihadirkan dalam diskursus kebahasaan untuk menjadi warna kajian kehidupan sosial keagamaan dewasa ini.

Good looking secara linguistik merupakan bahasa Inggris yang bermakna ganteng, indah, dan lainnya. Hal ini menunjukkan kata tersebut mengandung unsur makna positif. Namun demikian, setelah pernyataan menteri agama menjadi kontroversi, para pembaca wacana mulai mereferensikan istilah “good looking” menuju hal yang negatif. Istilah tersebut menjadi hal yang tidak lagi indah, tetapi penuh dengan referensi yang buruk bahkan menakutkan.

Dalam studi linguistik, apa yang dialami istilah good looking adalah sebuah fenomena dekonstruktif yang merusak hubungan sistemik tanda. Sebagaimana lumrah dalam ilmu linguistik umum, suatu bahasa disusun dalam dua komponen penting, penanda dan petanda (Baca: Prinsip dasar semiotika Ferdinand de Soursoue). Penanda adalah bentuk bahasa tutur, dan petanda adalah referensi yang dimunculkan kata tersebut. Namun dalam studi dekonstuksi yang digagas Derrida, hubungan sistemik pertandaan itu roboh. Suatu kata terkadang tidak lagi dibangun dalam dua komponen sebagaiman teori diatas.

Good looking adalah satu dari sekian istilah yang mengalami dekonstruksi linguistik. Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya dekonstruksi dalam suatu ruang linguistik, seperti: perkembangan informasi dan teknologi, dinamika konteks, keragaman tanda serta banyak lainnya. Dalam hal ini, istilah good looking dihancurkan referensinya karena wacana radikalisme yang dilemparkan menteri agama sehingga memunculkan referensi-referensi dekonstruktif dalam horison linguistik pembaca.

Radikalisme, sebagai fenomena sosial yang bernilai negatif, perlahan mengisi ruang semantik yang dimiliki good looking. Hal ini terjadi karena pemberitaan media yang terus menerus tentang berita tersebut, serta budaya sharing para pengguna media sosial. Akhirnya makna good looking tak lagi merujuk makna yang disediakan bahasa Inggris secara linguistik, tetapi telah melebar dalam makna-makna yang ditawarkan media sosial.  

Melihat fenomena bahasa di media, memang merupakan sebuah keniscayaan bahwa bahasa mengalami dinamisasi yang begitu kuat. Munculnya kemajuan teknologi dengan arus informasi yang tak terbendung melahirkan fenomena-fenomena kebahasaan yang sulit ditebak. Oleh karena itu, di era siber saat ini perlu dilakukan pemahaman bahasa secara komprehensif sehingga tidak menjebak pembaca dalam referensi linguistik yang kaku, bahkan mungkin prematur!

Istilah lain mungkin saja akan mengalami nasib yang sama dengan istilah good looking. Kita hanya perlu membekali diri dengan pemaknaan bahasa yang lebih canggih agar tidak tertipu dinamika bahasa yang telah melahirkan banyak makna yang sifatnya opsional. Di masa depan, tanda-tanda linguistik bisa jadi akan lahir dalam bentuk yang lebih rumit lagi, lebih kompleks lagi, dan tentunya lebih menantang!  

Post a Comment for "Bergesernya Medan Semantik Istilah ‘Good Looking’"