Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bahasa, Etika dan Konteks

Bahasa dalam konteks sosial sangat diikat dalam kode moral atau etika tertentu[1]. Merupakan hal yang lumrah jika dalam aktivitas sehari-hari kita dikonstruksi oleh bahasa, seperti ketika akan berbicara dengan orang seumuran, dibawah dan yang lebih tua umurnya maka penutur akan menggunakan bahasa yang sesuai dengan kode moral yang berlaku pada konteks sosialnya. Dengan demikian penggunaan bahasa pada tataran aplikasi memiliki hubungan yang kompleks dengan moral dan etika. Etika sendiri secara otonom memiliki makna yang lebih tinggi, yakni suatu hal yang dimiliki oleh seseorang dalam upaya memfilter setiap tindakan-tindakan yang bertentangan dengan tata cara atau mekanisme sosial suatu komunitas. Etika menjadi hal yang penting ketika manusia menginginkan stabilitas dalam intraksi sosial mereka.   

Dalam kajian filsafat bahasa juga tidak lepas dari intervensi moral. Konsep-konsep yang ditelurkan oleh beberapa ahli bahasa juga sangat erat kaitannya dengan model etika atau moral yang melatarinya. Seperti Immanuel Kant misalnya dalam konsep filsafat bahasanya dia memiliki tawaran etik, bahwa bahasa harus berorientasi pada moralitas yang berlaku. Namun demikian Kant dinilai kurang memuaskan kaum rasionalis yang tidak mau menerima begitu saja konsep yang abstrak (metafisik).

Tokoh filsafat bahasa yang juga banyak melakukan intervensi moral dalam konsepnya adalah Austin yang dikenal dengan teori tindakan bahasa-nya. Konsep filsafat bahasa Austin yang cendrung memandang perspektif etika adalah tindakan konstantif-nya[2]. Bagi Austin tuturan seseorang tidak akan bermakna apa-apa ketika dia tidak mampu mengaplikasikan apa yang dituturkan. Misalnya ketika seseorang berjanji untuk datang ke suatu acara pesta perkawinan, maka tuturan orang tersebut tidak akan berarti jika orang yang bersangkutan ternyata tidak menghadari acara yang dimaksud. Dengan kata lain Austin menginternalisasi etika dalam suatu tuturan.

Etika sendiri merupakan pencarian kebenaran (dalam kontek kelimuan). Dalam tataran aplikasi etika adalah cara seseorang untuk berbuat baik[3]. Namun demikian ukuran baik dalam pandangan manusia pun juga berbeda-beda. Misalnya ada orang yang memandang cupika-cupiki adalah tidak boleh (tidak baik) tapi sebagian manusia (Barat) mengganggap tradisi tersebut sebagai salah satu cara memberikan penghormatan. Untuk itu James memandang bahwa kode etika (moral) di setiap wilayah atau daerah itu berbeda-beda[4].  Pada prinsipnya, bahasa dan etika sangat terkait dengan konteks tertentu yang dalam berbagai hal juga mempengaruhi hubungan keduanya.

 



[1] James Rachels. Filsafat Moral. Terj. A Sudiarja. (Yogyakarta: Kanisius, 2004), hlm. 3

[2] Rizal Mustansyir. Filsafat Analitik; Sejarah, Perkembangan dan Peranan Para Tokohnya. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 37

[3] Poedjawiyatna. Etika; Filsafat Tingkah Laku. )Jakarta: Rineka Cipta, 1990), hlm. 6-7

[4] James Rachels. Filsafat Moral, hlm. 24

Post a Comment for "Bahasa, Etika dan Konteks"