Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cyber-semiotics (Semiotika Siber)

Istilah cyber-semiotics merupakan istilah dalam bidang ilmu Semiotika yang berbicara tentang tanda-tanda dalam konstruk media (cyber). Soren Brier menyebut bahwa cybersemiotic adalah integrasi dari teori komunikasi, pragmatik dan semiotik.[1]Istilah ini digunakan untuk menggambarkan cyberspace, yaitu ruang massa yang sangat bebas dan terbuka dimana petanda dan penanda sangat sulit diidentifikasi karena tanda sudah tidak mampu menampung realitas yang sangat berlebih (hiper-realitas).[2] Kenyataan dari fenomena tersebut adalah sulitnya menemukan hakikat suatu tanda. Manusia dengan demikian sering kali tertipu dengan tanda-tanda yang ada.

Dalam Semiotika Komunikasi khusunya dalam kajian media, kajian dipetakan ke dalam tiga pendekatan, yaitu pendekatan Politik-Ekonomi, pendekatan Organisasi dan pendekatan Kulturalis.[3] Ketiga pendekatan ini sudah lumrah digunakan dalam penelitian media.

Dalam kajian Semitoika Media, tanda sering kali memiliki makna yang berlainan dengan realitas sesungguhnya. Misalnya ketika media dikendalikan oleh berbagai kepentingan maka realitas sering kali bukan sebuah cerminan, tetapi sebuah konstruksi oleh orang-orang tertentu dengan ideologi tertentu pula. Dengan demikian media bukan lagi cerminan realitas (mirror of reality) tetapi lebih kepada perumus realitas (definer of reality).[4]

Namun demikian, penelitian aspek media tidaklah cukup dengan pendekatan itu saja, mengingat cyberspace merupakan ruang tak terbatas yang mana didalamnya sangat memungkinkan berbagai aktor terlibat, maka semiotika komunikasi ini diupgrade menuju kerangka konsep yang lebih mampu menjangkau fenomena yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu cyber-semiotic. Menurut Piliang cybersemiotik adalah mekanisme yang digunakan untuk melihat fenomena dalam cyberspace.[5]

Secara tehnis cyber-semiotic melihat tanda sebagai hal yang umum, konsep tanda dalam cyber-semiotic bukan lagi tentang penanda dan petanda tetapi pada berbagai aspek yang melingkupi suatu teks. Meminjam Piliang, ada tujuh karakter tanda dalam cyber-semiotic yaitu tanda kreatif, multiplisitas, ironik, anonim, penanda mengapung, tanda simulasi, tanda skizofrenia.[6]

Tanda kreatif ditunjukkan kepada suatu keadaan dimana tanda, simbol dan citra dikembangkan secara mandiri, tak terikat, relatif bebas, yang memungkinkan ditumpahkan semua kreatifitas seseorang ataupun kelompok di dalamnya. Selanjutnya mulitplisitas sebagai karakter tanda cybersemiotic ditunjukkan kepada tanda yang cendrung berkembang secara hampir tanpa batas disebabkan karena kemampuan sistem teknologi dalam menciptakan wujud-wujud artifisial.

Ketiga adalah tanda ironik yaitu cara berbicara yang menandai sesuatu tetapi kita tahu dari penanda yang lain bahwa ia sesungguhnya menandai sesuatu yang sangat berbeda. Pada model ini terkadang tanda yang dimaksud sering kali terbalik antara penanda dan petanda dalam suatu realitas yang berbeda. Kemudian ada tanda anonim yaitu tanda yang realitasnya tidak bisa dipastikan karena setiap orang bisa menampilkan dirinya dalam berbagai karakter apakah bebentuk karakter dirinya sendiri atau bahkan berbeda sama sekali dengan karakter aslinya.

Kelima, tanda yang penandanya mengapung. Yaitu suatu tanda yang tidak memiliki keterikatan antara petanda dan penanda karena hubungan keduanya bersifat cair dan sangat dinamis sehingga sangat sulit menentukan makna sesungguhnya. Keenam, adalah tanda simulasi yaitu tanda yang dibangun dengan karakter yang berbeda sama sekali dengan realitas sesungguhnya karena penanda hanya mengikuti dunia dalam teknologi itu sendiri. dan yang terakhir adalah tanda skizofrenia, yaitu elemen-elemen penanda yang terputus, bersilang, bercampur aduk satu sama lainnya, sehingga gagal membentuk suatu ungkapan bermakna.[7] Pada prinsipnya tanda dalam pandangan cybersemiotic mengalami keburaman hubungan antara petanda dan penanda sehingga makna yang sesungguhnya sangat sulit diperoleh



[1]Soren Brier, Levels of Cybersemiotics: Possible Ontologies of Signification,  (Cognitive Semiotics, Issu 4 Spring 2009) , 28.

[2]Yasraf Amir Piliang, Semiotika dan Hipersemiotika Kode, Gaya dan Matinya Makna (Bandung: Matahari, 2010), 370.

[3] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung: Rosda Karya, 2009), 110.

[4] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, 111.

[5] Yasraf Amir Piliang, Semiotika dan Hipersemiotika, 380.

[6] Yasraf Amir Piliang.... 385

[7] Yasraf Amir Piliang, Semiotika dan Hipersemiotika, 386.

Post a Comment for "Cyber-semiotics (Semiotika Siber)"