Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teori Tradisional dan Struktural



Teori Linguistik Tradisional

Teori lingusitik tradisional merupakan teori linguistik yang bersifat tradisional. Istilah ini disebut demikian karena umur teori kebahasaannya paling tua dan merupakan tumpuan perkembangan teori-teori kebahasaan lain setelahnya. Teori linguistik tradisional ini mengambil asumsi-asumsi dan hipotesis tentang bahasa pada filsafat dan logika, data bahasanya berbentuk tertulis dan bahasa yang mengenal ejaan. Data tertulis itu hanya terbatas pada bahasa Yunani dan Latin. Selain itu, bahasa dianggap bukan produk budaya, melainkan hanya sebagai alat komunikasi dan berpikir. Karena bersifat hipotseis, maka hanya sebagai penjelasan filsafat dan logika tentang bahasa.

Ciri-ciri teori lingustik tradisional

Ada beberapa ciri teori linguistik tradisional:

- Tidak ada pembedaan antara bahasa ujaran dan bahasa tulisan

- Pemerian bahasa berdasarkan makna/ definisi.

- Pemerian bahasa berdasar patokan bahasa lain.

- Pemerian bahasa dengan variasi benar/salah.

- Melibatkan logika.

Tokoh-tokoh linguistik tradisional

Beberapa tokoh linguistik tradisional:

1.       Protogoras

Yakni salah satu tokoh kaum Sophis. Kaum Sphis sendiri merupakan kaum atau kelompok yang muncul pada abad ke-5 sebelum masehi (SM). Mereka terkenal dalam hal studi bahasa. Kelompok tersebut sangat mengagungkan retorika, yakni tradisi berdebat. Dari tradisi tersebutlah mereka mengembangkan teori bahasa.

Protogoras membagi kalimat menjadi: kalimat narasi, kalimat tanya, kalimat jawab, kalimat perintah, kalimat laporan, doa, dan undangan.

 

2.       Georgias

Tokoh ini juga merupakan salah satu tokoh kaum Sophis, dia membicarakan gaya bahasa seperti yang kita kenal saat ini.

 

3.       Plato (429-347 SM)

       Tokoh ini lebih dikenal sebagai filsuf dari pada seorang linguis. Namun dia juga sebenarnya seorang pengkaji linguistik, hal ini diidentifikasi melalui bukunya yang terkenal Dialoog. Salah satu hasil pemikiran linguistiknya yang menonjol adalah tentang bahasa alamiah dan bahasa konvensional.

 

4.       Aristoteles (384-322 SM)

        Aristoteles adalah murid Plato. Karakter konsep linguistik yang ditelurkan Aristoteles adalah selalu bertolak dari logika. Dia memberikan pengertian, definisi, konsep, makna, dan sebagainya selalu berdasar pada logika.

        Setelah empat tokoh penting diatas, era linguistik tradisional dikembangkan oleh kaum Stoik, dan dilanjutkan oleh kaum Alexandrian, kemudian zaman Romawi, Varro (seorang pencetus istilah etimologi), Zaman Pertengahan, Zaman Renaisans.

Zaman Renaisans dinilai oleh para sejarawan sebagai pijakan awal lahiranya linguistik modern atau linguistik struktural.  

 

Teori Linguistik Struktural

Teori Linguistik Struktural adalah lanjutan dari linguistik tradisional. Oleh karena itu, teori linguistik struktural dikenal juga dengan linguistik modern. Tokoh utama yang membidani lahirnya aliran linguistik ini adalah Ferdinand de Saussure (1857 - 1913). Prinsip-prinsip linguistik struktural dibahas dalam mata kuliah yang diampunya. Setelah wafat, serpihan pemikiran tersebut dibukukan oleh murid-muridnya dalam buku yang terkenal: Course de Linguistique Generale.

Dalam buku tersebut, ada beberapa poin konsep yang bisa ditulisakn: 1) telaah sinkronik dan diakronik, (2) perbedaan langue dan parole, (3) perbedaan signifiant dan signifie, (4) hubungan sintagmatik dan paradigmatik. Empat poin inilah yang pada kemudian hari banyak mempengaruhi konsep-konsep linguistik bahkan hingga saat ini. 

Teori linguistik struktural merupakan teori kebahasaan yang bersifat struktural yang mempunyai asumsi dan hipotesis tentang bahasa berdasarkan pada hasil pemakaian yang otonom. Asumsi dan hipotesis tersebut diuji dan diverifikasi dengan data bahasa, baik lisan maupun tertulis. Disamping itu, fakta dan data bahasa yang bersifat lisan memberikan kemungkinan penciptaan teori-teori bahasa yang bersifat universal dan spesifik. Teori struktural ini lebih dapat menerima bahasa sebagai satu gejala ilmiah dan manusiawi daripada teori linguistik tradisional. Teori-teori ini dapat dihasilkan dengan cara kerja metode keilmuan, yakni induktif-deduktif, deduktif-induktif.

Beberapa tokoh dan aliran linguistik struktural

1.       Ferdinand de Saussure

2.       Aliran Praha (1926)

3.       Aliran Glosematik

4.       Aliran Firthian

5.       Linguistik Sistemik

6.       Strukturalis Amerika (Leonard Bloomfied)

7.       Aliran Tagmemik

Setelah era linguistik struktural habis, muncullah aliran linguistik transformatif.

 

 

 

2 comments for "Teori Tradisional dan Struktural"