Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Prinsip Dasar Semiotika Ferdinand de Saussure


Penggunaan semiotika sebagai metode pembacaan di dalam berbagai cabang keilmuan dimungkinkan, oleh karena itu kecenderungan dewasa ini untuk memandang sebagai diskursus sosial, politik, ekonomi, budaya, seni, dan desain sebagai fenomena bahasa. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktek sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, maka ia dapat pula dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan, oleh karena luasnya pengertian tanda itu sendiri, Saussure, misalnya menjelaskan tanda sebagai kesatuan yang tak dapat dapat dipisahkan dari dua bidang – seperti halnya selembar kertas – yaitu bidang penanda (signifier) untuk menjelaskan bentuk atau ekspresi; dan bidang petanda (signified), untuk menjelaskan konsep atau makna.
Berkaitan dengan piramida pertandaan Saussure ini (tanda / penanda / petanda), Saussure menekankan perlunya semacam konvensi sosial (social convention) di kalangan komunitas bahasa, yang mengatur makna sebuah tanda.Satu kata mempunyai makna tertentu disebabkan adanya kesepakatan sosial di antara komunitas pengguna bahasa.
Meskipun demikian, di dalam masyarakat informasi dewasa ini terjadi perubahan mendasar tentang bagaimana tanda dan objek sebagai tanda dipandang dan digunakan. Perubahan ini disebabkan, bahwa arus pertukaran tanda (sign exchange) atau objek dewasa ini tidak lagi berpusat di dalam satu komunitas tertutup, akan tetapi, melibatkan persinggungan di antatra berbagai komunitas, kebudayaan dan idelogi. Jean Baudrillard, di dalam berbagai karyanya mencoba melihat secara kritis kompleksitas penggunaan objek dan sistem objek (the system of objects) dalam konteks nilai tandanya (sign value) di dalam masyarakat kapitalis dewasa ini, yang merupakan sebuah bidang penelitian sendiri yang sangat kompleks.
Di dalam konteks strukturalisme bahasa, tanda tidak dapat di lihat hanya secara individu, akan tetapi dalam relasi dan kombinasinya dengan tanda-tanda lainnya di dalam sebuah sistem. Analisis tanda berdasarkan sistem atau kombinasi yang lebih besar ini (kalimat, buku, kitab) melibatkan apa yang disebut aturan pengkombinasian (rule of combination), yang terdiri dari dua aksis, yaitu aksis paradignatik (paradigmatic), yaitu perbendaharaan tanda atau kata (seperti kamus), serta aksis sintagmatik (syntagmatic), yaitu cara pemilihan dan pengkombinasian tanda-tanda, berdasarkan aturan (rule) atau kode tertentu sehingga dapat menghasilkan sebuah ekspresi bermakna.
Dalam hal ini seperti telah disebutkan terdahulu bahwa bahasa adalah suatu sistem yang didalamnya terkandung parole dan langue, serta semiotika memaparkan proses tanda. Akan tetapi dikotomi semiotika antara signifikasi dan signifiance, sekaligus menggambarkan dikotomi antara langue dan parole, dan pada tingkat filosofis antara paham idealisme dan materialisme.Ada kecenderungan pada wacana bahasa di Barat untuk melihat dikotomi ini sebagai layaknya pilihan multiple choice – yakni memilih salah satu kutub ekstrim.Misalnya, demi menjunjung tinggi kreativitas dalam bahasa, maka segala bentuk konvensi dan kode-kode sosial diabaikan dan didekonstruksi, sehingga berkembanglah produksi tanda secara anarkis.
Pada prinsipnya, model Semiotika Ferdinand de Saussure adalah konsep dasar yang dari bangunan teori tersebut muncul berbagai konsep dalam ilmu Semiotika. Melalui konsep langue dan parole Ferdinand telah berhasil menjadi gerbang inspirasi bagi para pemikir setelahnya, seperti Pierce yang melahirkan konsep Semiotika Komunikasi, dan para pemikir Semiotika lainnya seperti Umberto Eco, Ludwig Wittgenstein, Austin, dan lain sebagainya.  

Post a Comment for "Prinsip Dasar Semiotika Ferdinand de Saussure"